Sosial Media
0
News
    Home agama berita budaya politik politik dan pemerintahan

    Bukan popularitas, ini alasan KH Imam Jazuli menilai Said Aqil paling ideal memimpin Syuriyah NU

    2 min read

    PESANKU.CO.ID, JAKARTA-- Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), diskusi mengenai sosok ideal Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berlangsung.

    Jabatan Rais Aam tidak dianggap sebagai posisi struktural semata, tetapi merupakan simbol martabat, otoritas tertinggi Syuriyah sekaligus penentu arah strategis jam’iyah yang menjadi pewaris para Nabi ini di tengah dinamika nasional dan global.

    Pandangan tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.

    Menurutnya, pemilihan Rais Aam harus dimulai dari kriteria yang tegas sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), bukan hanya pertimbangan popularitas figur.

    Dalam kepengurusan NU, katanya, Syuriyah adalah lembaga tertinggi yang sepenuhnya menguasai organisasi para ulama ini. Syuriyah PBNU dipimpin oleh seorang Rais Aam yang biasanya dipilih berdasarkan kriteria yang ketat.

    "Dalam struktur NU, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simbol martabat, pemimpin spiritual, dan pengambil kebijakan strategis jam'iyah. Karena itu, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah ia memenuhi kriteria," kata KH Imam Jazuli dalam pernyataannya, Senin (26/1/2026).

    4 Pilar Utama

    Ia menyebut empat pilar utama yang harus dimiliki Rais Aam PBNU yaitu alim, faqih, zahid, serta berwibawa dan berpengalaman dalam organisasi yang diperkuat dengan nilai muru'ah, futuwwah, dan muharrikan atau penggerak.

    Berdasarkan kriteria tersebut, KH Imam Jazuli menilai KH Said Aqil Siradj sebagai sosok yang paling memenuhi syarat untuk memimpin Syuriyah NU pada periode mendatang.

    "Jika kriteria tersebut diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna," katanya.

    Dari segi keilmuan, Kiai Said Aqil disebut sebagai ulama yang alim dan faqih dengan latar belakang pendidikan dari Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran kontemporer.

    "Pemikiran beliau mencerminkan Islam wasathiyah. Kuat dalam tradisi pesantren, tetapi mampu merespons modernitas tanpa kehilangan identitas NU. Sehingga, kefaqihan KH Said Aqil bersifat solutif dan kontekstual, sehingga mampu memberikan jawaban atas permasalahan umat di era perubahan sosial yang cepat," jelas dia.

    Dalam aspek spiritualitas, Kiai Said Aqil dianggap memiliki sifat zuhud, yaitu tidak terikat oleh ambisi dunia meskipun memiliki kapasitas dan akses kekuasaan.

    "Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana ibadah. Jabatan bagi Kiai Said adalah amanah dan khidmah, bukan tujuan," katanya.

    Pengalaman panjang Kiai Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode (2010–2021) juga menjadi poin penting.

    Menurut KH Imam Jazuli, pengalaman itu membuatnya memahami NU secara utuh, baik dalam aspek struktural, ideologis, maupun kultural.

    "Beliau bukan hanya memahami AD/ART, tetapi juga sebagai pelaku sejarah modernisasi NU. Ia tahu bagaimana mengelola organisasi sebesar NU tanpa melenceng dari khittah 1926. Di bawah kepemimpinannya, gagasan kemandirian NU melalui penguatan pendidikan tinggi, rumah sakit, dan jaringan internasional dianggap sebagai visi strategis jangka panjang," katanya.

    Ia juga menyoroti peran Kiai Said Aqil sebagai muharrik, penggerak organisasi yang mampu membawa Islam moderat NU ke tingkat global.

    Sikapnya yang konsisten dalam menjaga NKRI dan melawan ekstremisme dianggap sebagai bentuk futuwwah dan muru'ah seorang Rais Aam.

    "NU ke depan membutuhkan Rais Aam yang berani bersikap tegas, meskipun pahit, demi keselamatan jam'iyah dan jamaah. Kiai Said memiliki keberanian moral itu," tegasnya.

    Ia menambahkan, Muktamar ke-35 NU membutuhkan sosok Rais Aam yang tidak lagi berada pada tahap belajar, tetapi telah matang secara keilmuan, pengalaman, dan visi kepemimpinan.

    "Dengan rekam jejak nasional dan internasional, Kiai Said Aqil Siradj adalah standar emas Rais Aam PBNU. Menempatkannya sebagai Rais Aam merupakan langkah strategis agar NU tetap menjadi jangkar stabilitas nasional dan kompas moral umat," katanya. (m27)

    Komentar
    Additional JS