Curug Ciomas, Jejak lava purba di tengah hutan yang lebat di Bandung

Ringkasan Berita:
- Curug Ciomas atau Curug Omas di Taman Ir. H. Juanda Bandung menawarkan pesona air terjun yang berdiri di atas aliran lava purba hasil letusan efusif Gunung Sunda.
- Dengan tiket masuk Rp17.000, pengunjung dapat menikmati jalur trekking melintasi gua bersejarah dan penangkaran rusa menuju titik pertemuan sungai yang membentuk Ci Kapundung.
- Selain memiliki nilai geologi yang tinggi, lokasi ini menjadi favorit keluarga karena udara pegunungan yang sejuk serta harga makanan lokal yang sangat terjangkau.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
PESANKU.CO.ID, BANDUNG -Suara air terlebih dahulu terdengar sebelum Curug Ciomas benar-benar terlihat.
Di balik rimbun pepohonan dan jalur setapak yang membelah hutan, air jatuh bertingkat di celah sempit batuan lava yang menjadi saksi letusan efusif Gunung Sunda–Gunung Tangkubanparahu ribuan tahun silam.
Di papan informasi yang tertera, curug ini berdiri di atas aliran lava purba yang membentang dari utara ke selatan, membentuk lidah lava hingga kawasan Curug Dago.
Air Curug Ciomas atau sering disebut Curug Omas mengalir di Cikawari, sungai yang berhulu di wilayah utara dan kemudian bertemu Cigulung.
Pertemuan dua aliran ini kemudian menyatu menjadi Cikapundung, sungai yang membelah Kota Bandung dan menjadi bagian penting dari DAS Citarum.
Secara geologis, Curug Ciomas terbentuk dari air yang terus-menerus menghantam batuan lava membentuk ceruk di dasar air terjun akibat erosi dan energi aliran. Karena lapisan batuannya lebih tahan terhadap erosi, terbentuklah ceruk menyerupai gua dangkal di sekitar aliran Cikawari. Di sisi timur, Cikawari berhulu di Gunung Bukittunggul, sedangkan Cigulung merupakan pertemuan antara Ciputri, Cicukang, dan Cibogo yang berhulu di kawasan Cikole.
Suasana terasa sejuk. Air mengalir deras di atas batuan gelap, membentuk air terjun kecil dengan suara konstan yang menenangkan.
Lumut dan rumput liar tumbuh subur di tepian, sesekali diiringi kicau burung yang bersahut-sahutan.
Sebuah jembatan besi melintasi aliran air, menjadi titik favorit untuk berhenti sejenak. Dari atas jembatan, air terlihat jatuh bertingkat, tidak terlalu tinggi, namun cukup kuat untuk menghasilkan buih putih di antara batu-batu.
Jalur setapak yang landai dipenuhi pengunjung. Ada keluarga yang berjalan santai, rombongan kecil yang berbicara ringan, hingga para wisatawan yang berhenti mengambil foto.
Di beberapa titik, pengunjung duduk menikmati udara lembap khas hutan pegunungan.
Di kejauhan, deretan warung sederhana menjadi tempat singgah. Setelah perjalanan dari trekking, banyak pengunjung memilih untuk mengisi perut atau sekadar melepas dahaga. Harga makanan pun terbilang ramah di kantong.
Azka (34), salah satu pengunjung, datang bersama keluarganya dari Kabupaten Sumedang.
Ayah dari anak ini berangkat setelah dzuhur, memanaskan mesin motornya sebelum menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer.
Setelah itu, ia masih melanjutkan trekking sejauh kurang lebih 10 kilometer untuk mencapai Curug Ciomas.
"Ini sudah yang kedua kalinya ke sini. Dulu masuk dari Maribaya, sekarang lewat Tahura. Jalurnya berbeda, sensasinya juga berbeda," katanya saat ditemui di Taman Ir H Juanda, Minggu (25/1/2026).
Ia memilih datang di sore hari untuk menghindari keramaian.
"Jika sudah sore, jalannya lebih landai, meskipun masih ada yang mendaki. Kami juga biasa berolahraga di sore hari, cuacanya lebih nyaman," tambahnya.
Soal makan, Azka mengaku tidak perlu mengeluarkan uang dalam-dalam.
"Makan berat, camilan, hingga hidangan penutup untuk empat orang tidak sampai Rp100 ribu," katanya.
Ia mengatakan, untuk sampai ke Curug Ciomas melalui jalur treking di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir H Juanda dikenakan biaya masuk sebesar Rp17 ribu.
Sepanjang jalan, pengunjung akan melewati Goa Belanda - Goa Jepang - Penangkaran Rusa dan Curug Ciomas menjadi destinasi terakhir di jantung hutan Kota Bandung. (*)