Sosial Media
0
News
    Home bisnis budaya masyarakat perdagangan tradisi

    Daftar 10 pasar tradisional legendaris di Yogyakarta: Beringharjo hingga Imogiri

    5 min read

    PESANKU.CO.ID,SEMARANG — Pasar tradisional masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi, pasar-pasar ini juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

    Beberapa pasar tradisional di Yogyakarta telah dikenal sebagai pasar legendaris karena sudah ada sejak lama dan masih beroperasi hingga saat ini.

    Mulai dari pasar yang terletak di pusat kota hingga area pinggiran, keberadaan pasar-pasar ini menjadi saksi bisu perkembangan sosial dan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Berikut daftar 10 pasar tradisional legendaris di Yogyakarta yang bisa Anda kunjungi

    1. Pasar Beringharjo

    Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional legendaris dan ikonik di D.I. Yogyakarta. Pasar ini menjadi pasar tertua dengan nilai historis yang berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta. Dilansir dari laman Sonobudoyo, wilayah pasar Beringharjo pada awalnya masih berupa hutan beringin. Setelah berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1758, wilayah hutan beringin yang berada di sebelah selatan keraton, mulai menjadi tempat transaksi ekonomi oleh masyarakat Yogyakarta.

    Pada tahun 1929 saat masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, pasar ini secara resmi diberi nama "Beringharjo". Kata 'bering' diambil dari beringin, dan 'harjo' diambil dari bahasa Jawa yang berarti kesejahteraan. Setelah puluhan tahun berdiri, pasar Beringharjo masih ramai dikunjungi masyarakat Yogyakarta hingga wisatawan. Di dalam pasar ini, terdapat banyak penjual yang menjajakan barang dagangannya mulai dari bahan dapur, kain-kain batik, hingga makanan khas Yogyakarta. Terletak di Jl. Margo Mulyo No.16, Malioboro, pasar ini buka mulai pukul 08:00-17:00 WIB.

    2. Pasar Ngasem

    Pasar yang terletak di Jl. Polowijan No.11, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, dahulu dikenal sebagai pasar hewan khususnya burung. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar ini diketahui telah berdiri sejak tahun 1809 dengan adanya bukti berupa foto yang menampilkan pasar Ngasem dengan isi dagangan berupa burung. Namun, baru pada tahun 1960-an, pasar Ngasem secara resmi menjadi "Pasar Burung" setelah para penjual burung dari Beringharjo pindah ke pasar ini.

    Setelah itu, pada tahun 2010, pedagang burung secara resmi dipindahkan ke PASTY di Dongkelan agar kawasan wisata Taman Sari tidak terganggu dan dapat dikembangkan dengan lebih baik. Dari pemindahan tersebut, Pasar Ngasem mulai bertransformasi menjadi pasar pusat kuliner, ruang publik, hingga tempat kumpul warga. Di pasar ini, wisatawan maupun masyarakat dapat membeli kuliner khas, berbelanja oleh-oleh, hingga mengikuti aktivitas seni. Pasar Ngasem buka setiap hari mulai pukul 07:00-16:00 WIB.

    3. Pasar Gamping

    Pasar Gamping merupakan salah satu pasar tradisional terbesar dan tertua di Kabupaten Sleman. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar Gamping telah menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sejak masa Kerajaan Mataram Lama. Selain itu, pasar ini juga diperkirakan telah ada sebelum pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan. Pasar Gamping telah berkembang menjadi sentra buah segar eceran dengan harga yang lebih murah.

    Selain buah, pasar ini juga menyediakan penjual kebutuhan rumah tangga, sayuran, pakaian, hingga peralatan. Bentuk pasar ini terdiri dari tiga blok dengan pembagian seperti blok depan untuk tempat penjualan bahan pokok, alat rumah tangga, sandang, hingga aksesoris. Sementara itu, blok tengah digunakan sebagai tempat penjualan pakaian, sepatu, sandal, dan aksesoris, sedangkan blok belakang menjadi tempat penjualan buah, sayur-sayuran, daging, dan bumbu masak. Terletak di JL Wates KM 4, Gamping, Kabupaten Sleman, pasar ini buka selama 24 jam.

    4. Pasar Kranggan

    Pasar Kranggan merupakan pasar tradisional legendaris yang berada dekat dengan Tugu Yogyakarta. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar Kranggan diketahui telah berdiri sejak abad ke-19 di masa kolonial. Nama "Kranggan" dari pasar ini diambil dari gelar kebangsawanan Raden Tumenggung Rangga Prawirasantika, pejabat Kesultanan Yogyakarta yang konon menjadi pendiri pasar ini. Kata 'Ka-Rangga-an' kemudian melekat menjadi Kranggan.

    Pada awalnya, pasar Kranggan telah dikenal sebagai pasar tempat belanja kebutuhan pokok. Namun, seiring dengan perubahan, pasar Kranggan kini lebih dikenal sebagai pusat kuliner tradisional. Saat datang ke pasar ini, pengunjung bisa menjumpai berbagai macam kuliner tradisional mulai dari clorot, pisang goreng keju, lupis, cenil, hingga jenang. Selain kuliner, terdapat juga penjual bunga tabur, emas, bumbu dapur, pakaian, alat rumah tangga, hingga sayur-sayuran. Terletak di Jl. Poncowinatan, Jetis, pasar Kranggan buka mulai pukul 04:00-12:00 WIB.

    5. Pasar Legi Kotagede

    Pasar Legi Kotagede adalah pasar tradisional bersejarah dan legendaris yang telah berdiri sejak abad ke-16. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar ini didirikan pada tahun 1549 oleh Ki Ageng Pamanahan. Tanah tempat pasar ini berdiri merupakan hadiah yang diberikan Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya sebagai bentuk penghargaan karena Ki Ageng Pamanahan berhasil menumpas pemberontakan Arya Penangsang.

    Pada awalnya, Pasar Legi Kotagede dikenal sebagai Sargdhe atau Pasar Gede, bukan dalam artian mewah, melainkan penting. Masih berdiri kokoh hingga saat ini, Pasar Legi Kotagede ramai dikunjungi wisatawan atau masyarakat karena menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pokok, pakaian, kain batik, kerajinan tangan, hingga tanaman hias. Namun, selain itu, pasar ini juga menjual jajanan tradisional seperti Kipo, Yangko, Kue Kembang, Klepon, Geplak, dan lain-lain. Pasar yang berada di JL Mondorakan, Kotagede ini buka mulai pukul 05:00-12:00 WIB.

    Lanjutan 10 pasar tradisional legendaris di Yogyakarta

    6. Pasar Senthir

    Berbeda dengan pasar-pasar sebelumnya yang biasanya menjual makanan hingga kebutuhan pokok, Pasar Senthir merupakan pasar loak atau barang bekas legendaris di D.I. Yogyakarta. Nama "Senthir" dari pasar ini diambil dari lampu minyak kecil atau teplok yang disebut senthir yang digunakan oleh para pedagang pada zaman dahulu untuk penerangan saat berjualan. Sebagai pasar loak, Pasar Senthir menjual barang-barang bekas mulai dari kaset, uang koin kuno, gadget, sepatu, buku, barang elektronik, dan lain-lain. Terletak di Jl. Pabringan Selatan, Gondomanan, Pasar Senthir buka mulai pukul 19:00-24:00 WIB.

    7. Pasar Lempuyangan

    Pasar Lempuyangan merupakan pasar tradisional legendaris yang terletak dekat dengan Stasiun Lempuyangan. Pasar ini diketahui menjadi pasar relokasi dari pasar Reksonegaran pada tahun 1984. Pasar Lempuyangan telah dikenal sebagai pusat kuliner tradisional yang banyak dikunjungi wisatawan atau masyarakat Yogyakarta. Pasar ini menjadi pilihan pasar untuk mencari kuliner khas hingga jajanan tradisional. Adapun kuliner yang dijual di pasar ini terdiri dari soto, tongseng, jenang, pukis, bakmi, gule kambing, lupis, dan jajanan pasar lainnya. Terletak di Jl. Hayam Wuruk, Lempuyangan, pasar ini buka mulai pukul 05:00-17:00 WIB.

    8. Pasar Telo Karangkajen

    Pasar Telo Karangkajen adalah pasar tradisional legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1857. Sesuai dengan namanya, pasar ini menjadi satu-satunya pasar di Yogyakarta yang secara khusus menjual berbagai jenis singkong (telo). Pasar ini juga sering disebut sebagai pusat kuliner ketela di Yogyakarta. Di Pasar Telo Karangkajen, pengunjung atau masyarakat dapat membeli berbagai variasi ketela, seperti tela madu, tela meni, tela pohung, ubi jalar, dan lain-lain. Selain menjual ketela dalam bentuk mentah, di pasar ini juga dijual olahan makanan dari telo, seperti keripik telo hingga getuk. Terletak di Jl. Karangkajen, Mergangsan, pasar ini buka mulai pukul 06:00-15:00 WIB.

    9. Pasar Prawirotaman

    Pasar Prawirotaman merupakan pasar tradisional legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1943. Pada awal berdirinya, pasar ini hanya menjadi pasar tradisional sederhana yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Setelah puluhan tahun berdiri, pada tahun 2019 lalu, pasar ini direvitalisasi dengan fokus pada perbaikan dan penambahan ruang publik. Setelah direvitalisasi, pasar ini memiliki wajah baru dan terlihat lebih bersih serta rapi.

    Kini, pasar Prawirotaman tidak hanya menjadi pasar sederhana, melainkan sudah bertransformasi menjadi pusat ekonomi yang modern dengan berdampingan langsung bersama food court dan tenant ekonomi kreatif. Di Pasar Prawirotaman, masyarakat atau pengunjung bisa membeli bahan-bahan pokok, beragam kuliner tradisional, hingga bisa bersantai di area rooftop pasar. Terletak di Jl. Parangtritis No. 36, Brontokusuman, pasar ini buka mulai pukul 06:00-16:00 WIB.

    10. Pasar Imogiri

    Pasar Imogiri adalah salah satu pasar tradisional yang berada di Kabupaten Bantul dan diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-17. Pada tahun 2006, pasar ini pernah mengalami kerusakan parah akibat bencana gempa yang membuat pasar tidak lagi bisa menampung semua pedagang. Namun, satu tahun setelahnya, pada tahun 2007, Pasar Imogiri kembali dibangun di atas lahan seluas 4 hektar milik Pemerintah Desa Imogiri.

    Selain menjadi pasar tradisional, Pasar Imogiri juga dikenal sebagai pasar hewan. Di dalam pasar ini, dijual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan, pakaian, hewan ternak, peralatan rumah tangga, hingga kuliner tradisional. Terletak di Jl. Imogiri Timur, Kabupaten Bantul, Pasar Imogiri buka mulai pukul 05:00-13:00 WIB.

    Komentar
    Additional JS