Sosial Media
0
News
    Home Asia Indonesia pendidikan politik sistem pendidikan

    Dari Subang ke Istanbul: Mimpi Seorang Pelajar Jawa Barat Menembus Kampus Global

    2 min read

    BANDUNG, PESANKU.CO.ID- Antusiasme siswa Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, khususnya ke Turki, terus menunjukkan tren peningkatan.

    Selain kedekatan budaya, standar pendidikan tinggi yang mengadopsi sistem Eropa menjadi daya tarik utama bagi para siswa untuk melintasi batas geografis demi mencari ilmu pengetahuan.

    Suasana riuh menyelimuti ruang pertemuan di Hotel Crowne Plaza, Bandung. Ribuan siswa SMA dari berbagai penjuru Jawa Barat memadati Turkish Universities Fair 2026.

    Di antara kerumunan itu, terlihat Wica (18), siswi SMA Darul Fallah Subang, yang tekun mendengarkan penjelasan dari perwakilan salah satu universitas.

    Bagi Wica, Turki bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium besar untuk mewujudkan cita-citanya.

    Ia memilih jurusan teknik mesin—sebuah pilihan yang muncul dari ketertarikannya terhadap dinamika permesinan di lingkungan tempat tinggalnya.

    "Sekolah memberikan edukasi tentang peluang kuliah di luar negeri, dan Turki adalah salah satu yang paling menarik. Saya ingin melihat lebih luas bagaimana ilmu teknik dikembangkan di sana," kata Wica saat diwawancarai, Senin (26/1/2026).

    Hal yang sama dirasakan oleh Anggi Nuraeni dan Ica Sabrina, dua siswi dari SMA Kasomalang Subang.

    Meskipun mengakui masih dalam tahap menjajaki peluang, keduanya mulai mencari informasi detail mengenai syarat bahasa dan ketersediaan jurusan arsitektur serta kewirausahaan.

    "Kami datang karena ada undangan ke sekolah. Ternyata pilihannya banyak, dan kami bisa langsung bertanya apakah kuliahnya nanti menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Turki," kata Anggi.

    Jembatan Akademik dan Standar Eropa

    Pameran yang memasuki tahun kelima penyelenggaraannya ini menghadirkan lebih dari 25 universitas terkemuka dari Turki.

    Atase Pendidikan Kedutaan Besar Turki di Indonesia, Selman Ozdan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pameran biasa, melainkanplatformdialog strategis untuk memperkuat jaringan akademik antar negara.

    "Siswa tidak perlu lagi mendaftar secara daring tanpa panduan. Di sini, mereka bisa berkonsultasi langsung, tatap muka, mengenai persyaratan dan pendaftaran," kata Selman.

    Menurut Selman, jurusan favorit yang dipilih siswa Indonesia biasanya berada di sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

    Turki menjadi magnet karena telah mengadopsi Proses Bologna, yang memastikan kurikulum universitas di sana setara dengan standar Eropa.

    Saat ini, terdapat sekitar 350.000 mahasiswa internasional yang menempuh studi di Turki. Presiden Recep Tayyip Erdogan menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 500.000 mahasiswa.

    Khusus untuk Indonesia, arus keberangkatan mahasiswa menunjukkan peningkatan konsisten sebesar 1.000 hingga 2.000 orang setiap tahunnya.

    Kolaborasi Strategis di Kota Pendidikan

    Bandung dipilih sebagai lokasi pameran karena reputasinya sebagai kota pendidikan dengan basis sekolah menengah atas dan universitas berkualitas tinggi. Selman menyebutkan, acara ini juga menjadi ruang bagi forumUniversitas ke Universitas(U2U) untuk menjajaki kolaborasi antara kampus di Turki dengan institusi lokal seperti ITB.

    "Hubungan bilateral, kedekatan budaya, dan kesamaan nilai agama membuat pelajar Indonesia merasa nyaman memilih Turki," tambahnya.

    Pendiri Edutolia Education, Ibrahim Albayrak, menegaskan komitmennya untuk menyediakan akses informasi pendidikan yang dapat dipercaya.

    Pengalaman selama 12 tahun menyelenggarakan pameran serupa di berbagai negara, mulai dari Kazakhstan hingga Nigeria, menjadi modal untuk membantu pelajar Indonesia menjangkau pendidikan berkualitas.

    Sebagai bentuk dukungan nyata, penyelenggara juga menyediakan apresiasi berupa tiket penerbangan Jakarta-Istanbul bagi calon mahasiswa terpilih melalui dukungan Turkish Airlines.

    Pameran ini menjadi bukti bahwa di tengah globalisasi, jarak fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi putra-putri daerah, seperti dari Subang, untuk memimpikan bangku kuliah di jantung peradaban yang menghubungkan Asia dan Eropa.

    Komentar
    Additional JS