Dulu nakal dan miskin, kini Firdiansyah memiliki kampung robot dan membangun ribuan sekolah

LUMAJANG, PESANKU.CO.ID- Dulu, nama Firdiansyah mungkin hanya muncul dalam keluh kesah para tetangga dan gurunya sebagai anak desa yang nakal dan tidak punya masa depan.
Kemiskinan menjadi pelengkap takdir yang seolah menguncinya dari masuk ke gerbang kesuksesan.
Namun, di balik kejahilannya, tersimpan rasa lapar akan pengakuan dan mimpi yang tidak dapat dibeli oleh kemiskinan.
Siapa sangka, tangan yang dulu sering dianggap sebagai pengganggu kini justru menjadi panutan bagi ribuan sekolah di seluruh negeri.
Melalui Desa Robot di Lumajang, Jawa Timur, Firdiansyah membuktikan bahwa masa lalu yang gelap hanyalah bayangan yang akan hilang begitu seseorang berani menyalakan cahaya ilmu.
"Dari SD saya tertarik dengan elektro, jadi setelah diajarkan di sekolah saya praktikkan di rumah, ternyata benar-benar bisa, SMP itu saya sering nongkrong di tukang service tv, radio sambil belajar elektro," kata Firdiansyah mengawali ceritanya kepadaPESANKU.CO.ID, Minggu (25/1/2026).
Lahir di Lumajang hidup susah
Firdiansyah, lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil yang berada di sisi selatan kota pisang, tepatnya di Desa Yosowilangun, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Ia tidak lahir dari keluarga kaya yang semuanya tersedia di rumah. Ayah dan ibunya hanya seorang pedagang di Pasar Yosowilangun.
Apalagi memiliki peralatan elektronik canggih seperti TV, kulkas, hingga setrika, bahkan untuk makan saja, seringkali ia harus memakan nasi yang tidak enak.
Sementara itu, nasi saya adalah sisa nasi yang tidak dimakan yang dibersihkan, dikeringkan di bawah sinar matahari hingga berwarna coklat.
Biasanya, nasia aking menjadi makanan alternatif masyarakat kurang mampu saat harga beras tinggi atau krisis.
Anak yang nakal
Seperti anak di sebuah kampung kecil, pergulatan anak jalanan desa yang sering membuat onar tak pernah lepas dari masa pencarian jati diri Firdiansyah.
Tidak hanya di desa, kejahilan Firdiansyah juga berlanjut di sekolah. Dihukum guru hingga dihukum menjadi pelengkap bumbu kejahilannya.
Apalagi, Firdiansyah bukan termasuk siswa berprestasi di sekolahnya.
"Bapak saya bahkan berkata kalau kamu benar-benar ingin sekolah maka ke Lumajang (kota), kalau tidak maka carilah rumput seperti temanmu yang lain," kata Firdi.
Akhirnya, ada seorang guru di SMP Yosowilangun yang membangunkan Firdiansyah akan pentingnya memiliki mimpi.
Tanpa prestasi tidak ada yang bisa dibanggakan
Guru tersebut secara terbuka menyampaikan kondisi Firdiansyah yang hidup dari keluarga tidak mampu hingga tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan.
Bukan marah, Firdiansyah justru menyadari bahwa tanpa prestasi, tidak ada yang bisa dibanggakan kepada kedua orang tuanya hingga keturunannya nanti.
"Saya diberitahu oleh guru saya bahwa dia sudah miskin, bodoh, nakal, terus mau jadi apa kamu," lanjutnya.
Dari sana, ia mulai rajin belajar. Setelah pulang sekolah, selalu ia menyempatkan diri mampir ke perpustakaan untuk mencari bahan bacaan.
Pada suatu saat ia menemukan bacaan tentang perjalanan hidup Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie.
Ia merasa, situasi BJ Habibie kecil tidak jauh berbeda dengannya. Lahir dari keluarga sederhana hingga dunia mengakui kecerdasannya.
Setiap detail dari kebiasaan BJ Habibie ditiru oleh Firdiansyah. Mulai dari gemar berolahraga, membaca buku, hingga kebiasaan tidurnya.
"Saya sering pergi ke sekolah dalam keadaan mengantuk, ya karena tidurnya kurang, tapi saya terus membaca, di rumah membaca, ke sawah membaca," katanya.
Di luar dugaan, kebiasaan barunya itu membuat peringkatnya di kelas meningkat drastis dan sempat membuat para guru di sekolah heboh.
Bahkan, Nilai Ujian Nasional Murni (Danem) atau saat ini Nilai Ujian Nasional, Firdiansyah menjadi yang terbaik se-Kecamatan Yosowilangun.
"Nilai NEM saya peringkat 20 se-Kabupaten Lumajang," katanya dengan bangga.
Singkat cerita, Firdiansyah kecil mulai memasuki masa remaja dan waktunya menempuh pendidikan tinggi.
Menatap gerbang ITB
Saat itu, cita-citanya hanya satu, kuliah di jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kondisi keluarga yang saat itu serba kekurangan, membuat ayahnya menjual ayam untuk biaya pergi ke Bandung mengikuti tes.
Hampir setiap hari, ia menatap gerbang ITB sambil mengingat pesan ayahnya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.
Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat Firdiansyah hanya memiliki satu pilihan yaitu kuliah melalui jalur prestasi.
"Bapak saya selalu mengingatkan bahwa saya bukan orang kaya, jadi jika tidak kuliah di negeri maka harus mengubur mimpi untuk kuliah," kenangnya.
Sayang, impiannya masuk ke Kampus ITB harus dikubur dalam-dalam. Hasil tes menunjukkan Firdiansyah diterima di jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Selama di ITS, Firdiansyah bukan tipe mahasiswa yang hanya fokus pada kuliah. Selain menempuh studi, ia juga mulai berbisnis untuk mencari tambahan uang saku guna membayar SPP dan biaya hidup sehari-hari.
"Saya berdagang, mulai dari yang kecil yaitu menjual jasa fotokopi, menjual beli komputer, dan mengajar les elektronika di orang Tionghoa kaya di Surabaya," jelasnya.
Tidak hanya berdagang, Firdiansyah juga aktif dalam berorganisasi. Ia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Prosesnya di HMI juga tidak sembarangan. Bukan hanya ikut Latihan Kader (LK) lalu tidak aktif, tapi Firdiansyah sampai didorong untuk menjadi Ketua Umum HMI Cabang Surabaya.
"Saya menolak karena saya ingin lulus tepat waktu, karena adik saya masih sekolah, saya ingin lulus dan mencari uang," katanya.
Lulus dari ITS, berbagai perusahaan ternama seperti Angkasa Pura, Telkom, Garuda Indonesia, hingga Nokia pernah memanfaatkan jasanya.
"Saat itu saya merasa sudah mewujudkan impian ibu yang ingin anaknya bekerja di kantor menggunakan dasi," kenangnya.
Bosan menjadi karyawan
Bosan menjadi karyawan, Firdiansyah memutuskankeluar dari jabatandari perusahaan dan menggeluti dunia bisnis dengan menjadi seorang pengusaha.
Padahal, gajinya sudah mencapai angka belasan juta, nominal yang cukup besar pada tahun 2007.
Ia keluar tanpa pesangon, hanya mengandalkan dana BPJS Ketenagakerjaan sekitar Rp 20 juta.
Awalnya, ia memulai usaha di bidang pendidikan dengan membuka bimbingan belajar mata pelajaran umum hingga bahasa Inggris.
Namun, banyak dinamika membuatnya harus mundur dari sana.
Ia melihat ada peluang yang lebih menjanjikan dengan memulai pendidikan robotik yang dikenal sebagai kampung robot.
Kampung robot pertamanya berada di Tangerang, Banten. Sebelum akhirnya mendirikan lagi di kampung halamannya, Desa Yosowilangun.
Awalnya, Firdiansyah percaya diri dengan gelar teknik dari ITS Surabaya dan tabungan BPJS Ketenagakerjaan.
Tanpa tim, investor, apalagi mentor, Firdi memulai semuanya sendirian. Mulai dari menyusun kurikulum, membuat silabus, merancang modul pelatihan, hingga melakukan pemasaran dari sekolah ke sekolah.
Dalam dua tahun pertama, sekolah yang ia akses tidak stabil, kadang hanya tiga, naik menjadi lima, lalu turun kembali menjadi dua.
Oleh karena itu, Firdiansyah memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan pergi ke luar negeri pada tahun 2009.
Saat itu negara yang dikunjunginya masih berada di kawasan ASEAN, yaitu Singapura dan Malaysia.
Di sana, dia mengikuti seminar, mendengar cerita bisnis orang lain, dan belajar bagaimana pendidikan teknologi dibangun.
"Sayaku rekam semuanya, sayaku catat dan alhamdulillah bisa bermanfaat hingga saat ini," katanya.
Setelah 17 tahun berjalan, total ada sekitar 1.000 sekolah di 20 provinsi yang ada di Indonesia yang belajar program robotik yang dia ciptakan.
Dari sekian banyak muridnya, tidak sedikit yang berhasil meraih prestasi di tingkat internasional.
Salah satunya adalah siswa SMA 1 Lumajang yang memperoleh medali emas lomba robot tingkat ASEAN di Malaysia pada tahun 2024.
Firdiansyah melihat, di masa depan, semua entitas membutuhkan percepatan kinerja yang memerlukan bantuan teknologi.
"Semua konvergensi teknologi akan mengarah ke robotik atau mesin cerdas, jadi kemampuan ini sangat dibutuhkan di masa depan," katanya.