IHSG minggu ini diperkirakan masih dihantui arus keluar dan metode baru MSCI

Pasaran modal Indonesia saat ini berada dalam fase penuh tekanan setelah mencatatkan arus modal keluar (keluaran) yang cukup masif pada pekan lalu. Berdasarkan data perdagangan, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 3,5 triliun di seluruh pasar atau Rp 3,25 triliun jika hanya merujuk pada pasar reguler.
Fenomena ini memicu kekhawatiran pelaku pasar mengenai arah gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk sepekan ke depan.
Ahli pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, terdapat beberapa faktor fundamental dan teknikal yang memicu aksi jual triliunan rupiah tersebut. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini berada ditingkat rekor tertinggiatau mendekati angka Rp 17.000 per dolar AS.
"Melemahnya nilai tukar ini menjadi sentimen negatif yang mendorong investor asing untuk melindungi aset mereka terlebih dahulu," kata Michael kepadaPESANKU.CO.ID,Senin (26/1)
Selain faktor nilai tukar rupiah, pasar saat ini sedang mengantisipasi pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perhitungan metodologi.float gratisterbaru yang dijadwalkan pada 30 Januari mendatang.
Menurut Michael, jika metode baru ini diterapkan, ada potensi besar terjadinya aliran dana keluar lebih lanjut dari IHSG. Hal ini menjadi dasar bagi tindakan para investor untuk melakukan aksi jual ataujual habislebih awal sebagai antisipasi sebelum pengumuman tersebut resmi dikeluarkan.
Tekanan pasar ini sangat terasa nyata pada perusahaan-perusahaan milik konglomerat ternama, terutama saham-saham di bawah naungan Prajogo Pangestu yang sempat mengalami penurunan bersamaan pekan lalu. Salah satunya adalah PT Petrosea Tbk (PTRO), yang diperkirakan menjadi perusahaan baru yang masuk ke dalam indeks global MSCI.
Seperti yang diketahui, pada akhir perdagangan pekan lalu, harga saham PTRO turun sangat dalam sebesar 14,85% atau 1.600 poin ke level Rp 9.175. Harga saham ini bahkan menyentuh bataspenolakan otomatisdi bawah (ARB) dua hari berturut-turut. Sementara pada pembukaan perdagangan hari ini, saham PTRO bergerak cukup fluktuatif dan sempat terkoreksi 6,81% ke harga Rp 8.550 per unit pada pukul 09.02 WIB.
Michael menilai PTRO dan saham-saham dalam konglomerat lainnya memang sangat terkait dengan narasi perubahan metodologi MSCI tersebut, sehingga menjadi yang paling terdampak.
Namun demikian, dia menekankan bahwa masalah yang terjadi saat ini bersifat struktural terkait mekanisme pasar dan indeks, bukan disebabkan oleh penurunan kinerja dasar perusahaan itu sendiri. "Situasi ini justru menjadi tantangan bagi para emiten untuk memperbaiki struktur perusahaan mereka di mata pasar global," katanya.
Mengenai kelanjutan tekanan terhadap saham-saham konglomerat maupun emiten potensial lainnya dari MSCI, Michael memproyeksikan volatilitas masih akan mendominasi perdagangan hingga 30 Januari mendatang. Namun, ia memperkirakan tekanan jual tersebut secara perlahan akan mulai mereda sebelum pengumuman resmi dari MSCI. Hal ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar yang sebelumnya terjebak dalam aksi spekulasi dan kekhawatiran.
Di sisi lain, Michael memberikan catatan khusus untuk saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Berbeda dengan beberapa emiten lain yang terdampak isu struktural cukup dalam, saham emiten Grup Bakrie-Salim ini dinilai relatif lebih aman.
Hal ini dikarenakan posisi harga saham BUMI yang masih berada jauh di atas batas ambang batas (ambang batas) yang ditentukan, yaitu di tingkat Rp 308. Dengan demikian, kata Michael meskipun pasar secara umum sedang mengalami ketidakstabilan akibat sentimen eksternal dan perubahan regulasi indeks global, prospek beberapa emiten tetap memiliki ruang untuk bertahan selama didukung oleh struktur yang memenuhi kriteria pasar.