Sosial Media
0
News

    Home berita pencarian dan penyelamatan penerbangan pilot

    Kesaksian anggota Mapala 45 menggunakan parang sepanjang 5 meter melepaskan black box ATR 42-500

    3 min read

    Kesaksian anggota Mapala 45 menggunakan parang sepanjang 5 meter melepaskan black box ATR 42-500
    Ringkasan Berita:
    • Achmad tergabung dalam Unit Pencarian dan Penyelamatan (SRU) 1 dalam operasi pencarian Pesawat ATR 42-500
    • Achmad menceritakan, saat ditemukan, black box masih terpasang di bagian ekor pesawat

    ‎

    PESANKU.CO.ID, PANGKEP –Achmad Kadim dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) 45 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar menjadi salah satu anggota tim yang menemukan black box pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

    ‎

    Achmad tergabung dalam Unit Pencarian dan Pertolongan (SRU) 1.

    ‎

    Tim ini terdiri dari unsur Mapala 45, UKM SAR Unibos, personel TRC PT Semen Tonasa, Basarnas, Riders 700 TNI, serta personel Kodam XIV Hasanuddin.

    ‎

    Penemuan black box terjadi pada Rabu (21/1/2026), hari kelima operasi pencarian. Tim SRU 1 berangkat dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu sekitar pukul 07.30 Wita.

    ‎

    Perjalanan menuju pos 9 memakan waktu hingga pukul 10.00 WITA.

    ‎

    Dari pos tersebut, tim melanjutkan perjalanan menuju titik penemuan black box dan tiba sekitar pukul 12.00 Wita. Black box berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 Wita.

    ‎

    Achmad menceritakan, saat ditemukan, kotak hitam masih terpasang di bagian ekor pesawat.

    ‎

    "Masih terpasang erat," katanya kepada PESANKU.CO.ID, Sabtu (24/1/2026).

    ‎

    Posisi ekor pesawat tersebut tersangkut di pohon dengan ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah.

    ‎

    Selain posisi yang tinggi, kendala lain adalah tim tidak membawa alat perkakas untuk membuka baut yang mengunci black box ke bagian ekor pesawat.

    ‎

    Dengan pengalaman mendaki saat aktif di Mapala, Achmad kemudian mengambil inisiatif untuk mendaki pohon guna mengeluarkan kotak hitam.

    ‎

    Ia membawa sebilah parang berukuran sejengkal yang sebenarnya merupakan perlengkapan dasar untuk membuka jalur dan memotong semak-semak.

    ‎

    Sesampainya di atas, Achmad menggunakan parang tersebut untuk memotong bagian perekat black box. Ia mengayunkan parang ke arah perekat sambil menahan badan black box dengan satu tangan.

    ‎

    "Sekitar sepuluh menit saya memotongnya, alhamdulillah akhirnya terlepas," kata Achmad.

    ‎

    Ia menjelaskan, kotak hitam harus ditahan agar tidak terjatuh ke bawah. Jika lepas, kotak hitam berpotensi jatuh ke jurang yang berada tepat di bawah lokasi dengan kemiringan sekitar 90 derajat.

    ‎

    Achmad mengakui, tindakan tersebut tergolong berani. Jika ekor pesawat goyang saat proses pemotongan, dia berisiko jatuh ke jurang juga.

    ‎

    "Modal berani, tapi alhamdulillah bisa diselesaikan," katanya.

    ‎

    Setelah berhasil dilepaskan, black box kemudian dibawa ke Posko SAR Gabungan oleh personel TNI.

    ‎

    Sementara itu, Achmad bersama anggota SRU 1 lainnya kembali melanjutkan penyisiran untuk mencari korban.

    ‎

    Achmad mengaku bangga dapat terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia juga bangga menjadi bagian dari tim penemu black box dan bisa memegang langsung benda tersebut.

    ‎

    "Baru saya tahu posisinya di mana, bagaimana bentuknya. Selama ini hanya melihat di TV. Ternyata ini barang yang disebut sangat penting di pesawat," katanya.

    ‎

    Ia mengakui baru pertama kalinya terlibat dalam operasi pencarian pesawat.

    ‎

    Namun sebelumnya, ia pernah mengikuti sejumlah operasi pencarian dan evakuasi, antara lain evakuasi korban banjir di Aceh, gempa bumi di Mamuju, serta banjir bandang di Masamba.

    ‎

    Achmad adalah lulusan Universitas Bosowa, Fakultas Teknik, angkatan 2009. Ia bergabung dengan Mahasiswa Pencinta Alam sejak tahun yang sama dan mengambil divisi panjat tebing.

    ‎

    Achmad bercerita, Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendidikan dan latihan Mapala 45 sehingga medan di kawasan tersebut sudah sangat dikenal baginya.

    ‎

    "Boleh dibilang, kita sudah tahu seluk-beluknya, kondisi medan, dan strukturnya," katanya.

    ‎

    Setiap harinya, Achmad bekerja sebagai pembersih gedung tinggi di Makassar.

    ‎

    Selain Achmad, delapan anggota Mapala 45 Makassar juga terlibat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut.

    ‎

    "Jika di Mapala, setiap ada kegiatan evakuasi kami selalu ikut karena itu sudah menjadi panggilan jiwa," katanya.

    ‎

    Achmad Kadim lahir di Enrekang pada 24 April 1986 dan berdomisili di Jalan Batua Raya 5 Nomor 38, Makassar.

    Komentar
    Additional JS