Sosial Media
0
News
    Home berita budaya pendidikan politik sejarah

    Kisah Nur Sahati, perjuangan memutus rantai pernikahan dini dan kemiskinan anak TKI melalui pendidikan tinggi

    4 min read

    MAGETAN, PESANKU.CO.ID- Suara Nur Sahati Sahara, adik kelas XI IPS SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur terdengar begitu optimistis saat menceritakan cita-citanya untuk kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas) Kota Makassar Sulawesi Selatan dengan jurusan Psikologi.

    Meskipun masih ada 1 tahun lagi untuk mewujudkan impiannya, dia tidak ingin berpangku tangan.

    Selain rajin belajar, kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club, menghafal Al Quran hingga berkuda dia ikuti.

    "Saya selalu ingin menjadi psikolog. Saya senang bisa memahami masalah orang lain dan membantu," katanya di ruang tamu SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Minggu (25/1/2026).

    Tidak hanya ingin menjadi psikolog, pemilik nama Nur Sahati yang berarti cahaya satu hati juga memiliki rencana lain jika cita-cita kuliah di Unhas tidak terwujud.

    Enam bersaudara remaja tersebut ingin kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Jogja dengan jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

    "Saya tidak ingin berhenti sekolah. Saya juga ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses. Seperti guru-guru saya dulu," tambahnya.

    Kesulitan akses pendidikan bagi anak TKI

    Sahara lahir pada tahun 2008 di Sabah, Malaysia, di sebuah kawasan perkebunan sawit. Orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat rumah bagi pekerja migran Indonesia di perkebunan sawit tersebut.

    Membantu perekonomian membuat kedua orang tua bekerja di luar negeri sejak tahun 1998. Hingga kini, kedua orang tua masih bekerja di Negara Bagian Sabah tersebut.

    "Orang tua masih bekerja di sana bersama dua adik saya," katanya.

    Sahara tumbuh sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Salah satu kakaknya saat ini sedang kuliah di Yogyakarta.

    Kakak kedua memilih bekerja di Balikpapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga dan satu adiknya saat ini bersekolah di Jawa Tengah dengan fasilitas beasiswa dari program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).

    Program tersebut merupakan inisiatif pemerintah Indonesia bagi anak-anak WNI dari Sabah dan Sarawak yang ingin melanjutkan pendidikan di Tanah Air.

    Sahara mengaku menghabiskan masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah.

    Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang berdiri jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas.

    "Dulu saya hanya punya tiga guru. Mereka mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9," katanya.

    Salah satu guru yang memberikan inspirasi untuk tetap melanjutkan pendidikan tinggi di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di tengah perkebunan sawit adalah Pak Adi Arkono.

    Ia adalah seorang guru Indonesia yang mengabdi dengan sepenuh hati untuk menanamkan pentingnya sekolah bagi mereka.

    Ia mengajar tanpa menerima sepeser pun gaji, hingga akhirnya masyarakat dan pihak perusahaan memberikan bangunan bekas untuk dijadikan ruang kelas.

    "Di sanalah saya belajar arti pengabdian," kata Sahara.

    Sekolah Sahara berjarak sekitar dua hingga tiga jam dari kota Tawau. Aksesnya tidak mudah, tetapi kawasan tersebut relatif lebih dekat dengan kota pelabuhan Tawau.

    Sahara masih mengingat istilah "checking", razia oleh aparat setempat. Ketika kabar razia menyebar, warga yang tidak memiliki dokumen harus bersembunyi di sungai atau di balik pohon-pohon kelapa sawit.

    "Sayangnya jika ada pemeriksaan, pekerja yang tidak memiliki dokumen harus bersembunyi di sungai. Untungnya keluarga saya masuk sebagai pekerja legal," kenangnya.

    Wujudkan mimpi dari pesan orang tua

    Saat Sahara akhirnya bisa menginjakkan kaki di Indonesia dan masuk ke SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Sahara mengaku tidak percaya. Dari 14 teman sekelasnya di Sabah hanya 7 siswa yang bisa melanjutkan sekolah ke Indonesia.

    "Sekolahnya sangat besar. Fasilitasnya lengkap. Dulu di CLC, pelajaran TIK menggunakan tiga laptop untuk semua kelas. Di sini, semuanya tersedia," katanya.

    Sahara mengaku mendapatkan beasiswa adalah tiket untuk mencapai masa depan, karena mencari sekolah menengah atas di ladang sawit Negara Bagian Sabah Malaysia tidak mudah.

    Selain harus berada di kota besar, juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.

    "Setelah lulus SMP, jika tidak bekerja di ladang maka menikah jika perempuan. Akhirnya kita kembali terjebak dengan kondisi hidup yang tidak layak karena gaji yang kecil," katanya.

    Di balik keteguhan Sahara, terdapat pesan keras dari ayahnya yang meskipun hanya lulusan SD, namun ia mendorong seluruh anaknya untuk bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi.

    "Bapak saya pernah melarang kakak pertama saya berhenti sekolah karena demi membantu ekonomi keluarga. Bapak berkata, biarkan bapak yang bekerja. Kalian fokuslah pada sekolah," kenangnya dengan haru.

    Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak-anak dalam keluarga. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan pekerjaan berat di kebun sawit di Sabah Malaysia.

    Selain aspek akademik, Sahara memperkuat sisi spiritual dengan menghafal Al Quran sebagai bukti bahwa dia tekun membekali dirinya dengan seluruh ilmu yang dibutuhkan untuk mewujudkan cita-citanya di perguruan tinggi pilihan.

    Meski selama 3 tahun tidak pernah bertemu dengan orang tuanya, Sahara mengaku keberhasilannya akan menjadi investasi yang penting bagi kehidupan orang tuanya.

    Aturannya memang 3 tahun tidak boleh pulang, tapi masih bisa video call seminggu bisa 3 kali.

    "Saya pasti mampu menahan rindu untuk mewujudkan mimpi orang tua dan meningkatkan derajat mereka. Cita-cita tertinggi saya adalah membawa orang tua kembali ke Indonesia," katanya.

    Sahara tahu jalan masih panjang. Ia tahu perjuangan orang tuanya belum selesai.

    Namun dari perbatasan yang sunyi, Sahara membawa cahaya, seperti namanya, untuk mencapai masa depan yang lebih baik bagi anak TKI lainnya di kebun kelapa sawit Sabah Malaysia.

    "Yang ingin saya buktikan hanya satu hal, anak TKI juga bisa," katanya.

    Sekolah memutus rantai kemiskinan dan pernikahan anak di kalangan pekerja perkebunan sawit di Sabah.

    Gebya, Kepala SMA IIS PSM, yang juga merupakan inisiator gerakan Sabah Bridge pada tahun 2015 lalu melihat banyak lulusan SMP di CLC terancam menikah muda, bekerja di kebun, atau terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena tidak memiliki akses pendidikan lanjutan.

    Tanpa dukungan pemerintah saat itu, para guru bergerak mandiri mencari donatur, mengurus dokumen, hingga memberangkatkan anak-anak ke Indonesia.

    Upaya pertama pada tahun 2016 berhasil membawa 27 anak pulang meskipun penuh rintangan, mulai dari ketiadaan paspor hingga kegagalan terbang karena visa.

    Perjuangan itu akhirnya mendapat perhatian pemerintah dan menjadi cikal bakal Beasiswa Repatriasi yang kemudian masuk dalam program ADEM Repatriasi dengan pembiayaan penuh bagi anak-anak TKI.

    Pemerintah kemudian memasukkan program ini ke dalam ADEM, Afirmasi Pendidikan Menengah, yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi daerah 3T seperti Papua.

    "Program ADEM Repatriasi membuka jalan resmi bagi anak-anak TKI dari Sabah untuk melanjutkan sekolah menengah atas di Indonesia dengan biaya penuh," katanya.

    Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2018, Gebya melanjutkan perjuangan dengan mendampingi siswa ADEM Repatriasi di Jawa Timur.

    SMA IIS PSM Magetan, merupakan sekolah yang menjadi salah satu mitra penempatan siswa dari Sabah.

    Hanya di Jawa Timur, tercatat sekitar 90 siswa ADEM Repatriasi yang tersebar di belasan sekolah negeri dan swasta, termasuk Ngawi, Jember, Madiun, dan Magetan.

    Tidak hanya Adem, anak-anak TKI yang orang tuanya bekerja di Sabah Malaysia juga dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK), di mana kuotanya terbatas hanya sekitar 100 orang.

    Setiap tahun dari program ADEM mampu meluluskan 400 hingga 500 siswa.

    Program ini memutus rantai pernikahan dini di kalangan pekerja perkebunan kelapa sawit di Sabah. Anak-anak memiliki alasan kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah.

    "Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan," tambah Gebya.

    Komentar
    Additional JS