Sosial Media
0
News
    Home berita insiden kejahatan masalah sosial trauma

    Maraknya pembunuhan sadis di Banten, psikolog: faktor psikologis, sosial, dan situasional menjadi pemicu

    2 min read

    Maraknya pembunuhan sadis di Banten, psikolog: faktor psikologis, sosial, dan situasional menjadi pemicuBERITA BANTEN -Sejumlah kasus kekerasan hingga pembunuhan dengan tingkat kekejaman yang cenderung sadis terjadi di wilayah Banten dalam jangka waktu 2024 hingga awal 2026.

    Kasus-kasus ini muncul dari latar belakang yang beragam, seperti masalah ekonomi, hubungan personal, hingga masalah keluarga, dan sebagian di antaranya berakhir pada proses hukum yang panjang.

    Peristiwa paling awal terjadi pada September 2024 di ruas Tol Tangerang-Merak. Seorang sopir truk bernama Karjiko ditemukan meninggal dunia.

    Memasuki April 2025, kasus pembunuhan dengan mutilasi terjadi di Gunung Sari, Kabupaten Serang. Seorang perempuan muda, Siti Amelia, menjadi korban pembunuhan.

    Pada Juni 2025, terjadi peristiwa lain di sebuah perumahan di Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Kematian Petry Sihombing awalnya diduga sebagai akibat dari pencurian.

    Namun penyelidikan polisi menemukan adanya rekayasa peristiwa yang dilakukan oleh suaminya sendiri, Wadison Pasaribu.

    Masih di bulan yang sama, tepatnya 10 Juni 2025, seorang perempuan bernama Siti Maria ditemukan meninggal dunia di Kota Cilegon.

    Memasuki awal tahun 2026, kasus kekerasan kembali menarik perhatian publik di Kota Serang. Seorang asisten rumah tangga (ART) bernama Quratul Aini menjadi korban penusukan hingga meninggal dunia.

    Psikolog Sugiarti mengungkapkan bahwa latar belakang terjadinya kekerasan ekstrem, seperti pembunuhan, tidak dapat disederhanakan pada satu penyebab tunggal.

    Menurutnya, perilaku tersebut umumnya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari psikologis, sosial, hingga situasional.

    Dari segi faktor psikologis, pelaku kekerasan ekstrem seringkali memiliki keterbatasan dalam pengelolaan emosi, distorsi moral, serta tingkat frustrasi yang tinggi, yang dapat mendorong munculnya perilaku agresif.

    "Hal ini berkaitan dengan kondisi internal individu, seperti kemampuan mengendalikan emosi, impulsivitas, pola pikir, dan mekanisme dalam menghadapi stres. Seseorang yang kesulitan mengelola kemarahan, mudah frustrasi, atau memiliki cara berpikir yang salah, lebih rentan bereaksi secara ekstrem saat menghadapi tekanan," kata Sugiarti kepada Kabar Banten Minggu, 25 Januari 2026.

    Selain itu, faktor sosial juga berperan signifikan. Tekanan sosial, lingkungan yang tidak mendukung, serta pola interaksi yang tidak sehat sering kali menjadi pemicu perilaku ekstrem.

    "Lingkungan tempat seseorang tinggal sangat berpengaruh. Pola asuh yang penuh kekerasan, konflik keluarga, pergaulan yang permisif terhadap agresi, isolasi sosial, atau lemahnya dukungan sosial dapat membentuk pandangan bahwa kekerasan adalah sesuatu yang wajar atau dapat dibenarkan," katanya.

    Sugiarti menambahkan, faktor situasional sering menjadi pemicu langsung terjadinya kekerasan. Konflik mendadak, tekanan ekonomi yang menumpuk, konsumsi narkoba, atau situasi yang memicu emosi kuat dalam waktu singkat dapat berperan sebagai "pemantik".

    "Factor situasional ini biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja sama dengan kerentanan psikologis dan sosial yang sudah ada sebelumnya," katanya.

    Mengenai faktor ekonomi, Sugiarti menyebutkan sejumlah studi menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan, kemiskinan, dan tekanan ekonomi dapat meningkatkan risiko kriminalitas, termasuk kekerasan, terutama ketika peluang ekonomi terbatas dan sumber daya tidak merata.

    "Namun hubungan ini tidak bersifat deterministik. Artinya, kemiskinan tidak secara otomatis menyebabkan seseorang melakukan kejahatan. Lebih tepat dipahami sebagai faktor risiko yang memperparah kondisi," katanya.

    Menjawab pertanyaan apakah masalah ekonomi dapat mendorong perilaku ekstrem, Sugiarti menegaskan bahwa kemiskinan dan ketimpangan memang dapat meningkatkan tekanan sosial dan psikologis, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

    "Ada banyak individu dengan kondisi ekonomi sulit yang sama sekali tidak pernah melakukan tindakan ekstrem. Oleh karena itu, pembunuhan atau kekerasan berat biasanya muncul dari pertemuan berbagai faktor kerentanan psikologis, lingkungan sosial yang bermasalah, serta situasi pemicu tertentu pada suatu titik," katanya.

    Sebagai langkah pencegahan, Sugiarti mendorong peran aktif pemerintah, antara lain melalui penegakan hukum dan kebijakan yang disertai edukasi kepada masyarakat.

    Menurutnya, pendidikan tersebut dapat melibatkan kepolisian, kejaksaan, dan lembaga terkait agar mencapai masyarakat secara luas.

    "Strategi pencegahan juga dapat dilakukan melalui pendidikan karakter, penguatan ketahanan keluarga sebagai lingkungan paling vital, serta sekolah sebagai ruang penting pembentukan perilaku. Literasi tentang bahaya agresivitas perlu terus ditingkatkan," katanya.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya kebijakan ekonomi dan sosial, seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan sosial, serta peningkatan akses layanan kesehatan mental, baik untuk pencegahan, pengobatan, maupun promosi kesehatan mental di masyarakat.***

    Komentar
    Additional JS