Sosial Media
0
News
    Home budaya budaya makanan masakan memasak resep

    Tampaknya kata-kata menua dengan gembira

    2 min read

    Nyessss!

    Suara cireng yang masih hangat, tercelup dalam bumbu rujak. Cireng buatan Mbak Anna (tetanggaku) ini berbeda. Tidak terlalu banyak minyak, kenyal dan tentu saja sausnya membuat ketagihan. Pedas, manis, dan asam.

    Sementara di luar jendela, warna langit mirip seprai kasur yang sudah kusam. Mendung. Belum juga hujan turun, notifikasi HP berbunyi. Pesan dari Mbak Anna: Mbak, pesanan cireng untuk besok sudah siap. Mau diantar ke rumah paman sekarang atau besok saja?

    Pesan dari Mbak Anna, membuatku ingin tersedak. Kata-katacireng siapini, entah mengapa mengingatkanku padasebuah kumpulan esai"Menua dengan Gembira" yang baru saja saya letakkan di rak jati. Benar-benar kenangan yang masih hangat. Saya memakan cireng di mulut saya dengan cepat sebelum meledak keluar.

    Sebuah Komedi Hidup di Tengah Hari

    Di media sosial sempat beredar video orang yang enggan menikah muda karena takut nanti status WhatApp-nya berisi update "cireng ready y bund". - Menjadi tua dengan gembira halaman 2.

    Tiga hari yang lalu, buku "Menua dengan Gembira" ini masih ada di pangkuanku. Aku ingat membacanya sambil menunggu anak-anak bermain di rumah balon saat berkunjung ke kota Bung Karno. Pukul sepuluh pagi lebih sedikit, aku baru saja membuka sampul plastiknya. Dan dalam hitungan detik, sudah dibawa pada humor-humor pahit dari esai-esai buku ini.

    Mulai dari kasus cireng digrup WhatsAppIbu-ibu kompleks, yang tentu membuatku membayangkan Mbak Anna dan cirengnya sampai pada hal-hal sehari-hari yang rasanya jarang kusadari.

    Di bawah pohon rimbun di Taman Rojo (sebuah taman di kota itu), dadaku bergetar sambil sesekali berseloroh, "ya juga sih. Tapi mau bagaimana lagi." atau sesekali merespons hal-hal yang terlalu dekat dengan lingkungan sosialku.

    Sepuluh menit kemudian, tetangga saya membalas, baru saja Dokter Amin mengirim WA: yang bersangkutan tidak terkena corona, melainkan dirawat karena kelelahan saja....

    Lalu bagaimana dengan RSIA yang diisolasi?

    "Itu foto klinik di Bojonggede," jelas Dokter Amin. "Ditutup karena menjadi tempat aborsi. Kasus lama itu, sudah lima tahun lalu. Warna kliniknya memang mirip dengan rumah sakit kami." - Halaman 63 yang berusia tua dengan gembira

    "Ya, seperti itulah ibu-ibu di kompleks. Sering berbagi sesuatu yang belum tentu benar," kataku sambil menggeleng-geleng. Pada saat itu, jam masih belum siang, dan tanpa terasa sudah setengah buku. Ketika anak kecil itu mendekat ke arahku, meminta segelas air, Glek glek! Suara yang terdengar sangat lucu. Mungkin juga aku tidak menyadari ada tawa ku yang tidak terdengar dari sisa komedi di antara halaman buku.

    Gembira di Tengah Kompromi dan Negosiasi

    Saya kira setelah minum, anak itu akan meminta untuk pulang. Tapi, rasanya dia masih merasa nyaman bermain di rumah balon itu. "Baiklah, lima belas menit lagi ya. Setelah itu pulang," izinku padanya.

    Namanya anak kecil. Mereka terkadang mudah akrab dengan siapa saja, bahkan dengan teman yang baru saja dikenalnya. Aku buka kembali buku yang terhenti. Halaman 65. Sesekali kepalaku mengangguk-angguk.

    Bagaimana tidak? Aku jadi teringat perilaku saya sendiri di masa Covid dulu yang suka berselancar hingga merasa stres karena sering menemui berita-berita tidak menyenangkan tentang covid (mereka menyebutnya doom-surfing). Panik dan lagi-lagi overthinking. Lalu sebagai pelarian, saya akan mencari buku-buku self-help yang tidak bisa diberikan media sosial melalui algoritmanya terkait produktivitas. Bisa dikatakan buku-buku self-help pada masa itu menjadi antitesis darinya. Anti-produktivitas dan anti-flexing.

    Tren penggunaan media sosial yang sangat tinggi tampaknya juga berkontribusi terhadap larisnya buku-buku self-help anti-produktivitas ini. - Menua dengan Gembira halaman 73

    Aku mengipas diriku. Bukan karena aku merasa panas dengan buku yang kubaca, tapi lebih karena cuaca kota Blitar yang panas. Aku rasa awan belum sampai ke kota ini. Di tengah gerakan tanganku yang mengurangi suhu tubuhku dengan buku itu, aku memperhatikan sekali lagi anak kecil yang sedang bermain. Kepalaku sedikit kumiringkan, saat melihat rumah balon yang bergerak-gerak. Gerakannya tidak teratur, tapi membuatku membayangkan, apakah rumah balon itu senang karena anak-anak bermain di atasnya?

    Waktu yang cukup lama pikiran tentang gerakan rumah balon itu menggantung di kepalaku. Cukup aneh,apa yang sebenarnyaMengganjal pada saat itu. Pertanyaannya bahkan sampai kubawa pulang ke Malang.

    Setelah tiga hari, tepat pada kata-kata cireng ready terbaca, barulah gerakan rumah balon itu merepresentasikan bahwa kadang gembira datang ketikakita bisa berceritadan berusaha menikmati segala kompromi kehidupan. Ya, mirip dengan rumah balon yang tetap bergerak meskipun ada beban di atasnya.

    Mungkin aset terbesar negara ini adalah orang-orang yang cukup bahagia dengan berbelanja di pasar malam, ngobrol sembarangan sambil minum kopi instan dan membawa anak mereka naik odong-odong lima ribuan, sementara di atas sana semuanya berjalan seperti biasa. -Menjadi tua dengan gembira halaman 140

    Jari bermain di atas layar. Pesan mbak Anna kubalas: nanti habis jemput bocah kuambil ya mbak. Terima kasih. Kububuhkan emoji tangan menangkup. Tanda terima kasih.

    Setelah itu, satu cireng sisa kucelupkan dalam saus rujak sambil pikiran melanjutkan merasakan kata-kata menua dengan gembira.

    Komentar
    Additional JS