Sosial Media
0
News
    Home berita berita lokal masyarakat pemerintah persediaan air

    Warga membayar Rp 450.000 per bulan untuk mendapatkan air bersih, Pemkab mengakui sudah berupaya setiap hari

    3 min read

    Warga membayar Rp 450.000 per bulan untuk mendapatkan air bersih, Pemkab mengakui sudah berupaya setiap hari
    Ringkasan Berita:
    • Sebagai daerah dataran rendah, Tapanuli Selatan masih mengalami kondisi yang buruk pasca banjir dan tanah longsor
    • Warganya harus membayar 450 ribu rupiah untuk mendapatkan air bersih.
    • Pihak pemerintah belum merespons secara resmi
     

    PESANKU.CO.IDBencana banjir dan tanah longsor yang menimbulkan korban di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ternyata masih menimbulkan masalah.

    Penderitaan baru dirasakan oleh warga yang menjadi korban bencana banjir dan longsoran batu.

    Pihak pemerintah masih belum merespons dan menyelesaikan secara nyata masalah yang terjadi.

    Warga kini harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan air bersih.

    Air bersih

    Dua bulan pasca-bencana banjir dan tanah longsor, warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara masih kesulitan mendapatkan air bersih.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh Tribun Medan, banyak warga yang terpaksa harus membeli air dengan harga Rp 1.000 per jeriken.

    Meski terbilang cukup murah, banyak warga yang mengeluh.

    Karena, air menjadi kebutuhan utama masyarakat.

    Dijual dengan harga

    Misalnya Yani, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan.

    Ia terpaksa harus membeli air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya.

    Air bersih, kata Yani, bukan hanya digunakan untuk Mandi Cuci Kakus (MCK), tetapi juga diperuntukkan untuk pembersihan rumah setelah diperbaiki usai banjir dan longsor.

    "Sulit sekali, setiap hari antri pagi dan sore. Sudah sejak bencana tidak ada air bersih. Lumayan juga tempat membeli air itu di belakang Sekolah Matauli Pandan. Dan kita membelinya dengan harga Rp 1.000 per jeriken selama 15 jeriken dalam 30 hari, cukup berat juga kan," keluhnya kepada Tribun Medan, Minggu (25/1/2026), dikutip PESANKU.CO.ID dari Tribun Medan, Senin (26/1/2026).

    Artinya, setidaknya Rp 450.000 per bulan ia habiskan untuk kebutuhan air bersih. Apalagi, kata Yani, ia memiliki tiga orang anak yang setiap pagi wajib mandi untuk berangkat sekolah.

    "Rumah kami juga sudah selesai diperbaiki, cuma pembersihan dari perbaikan itu membutuhkan banyak air. Kami memiliki tiga anak yang masih sekolah. Semua di Tapteng ini, khususnya di Kecamatan Pandan, tidak ada pasokan air. Bagaimana kalau air tidak mengalir terus," katanya.

    Ada yang memilih membayar sesuka hati

    Selain Yani, Ansyah Sitompul juga mengeluhkan hal yang sama.

    Hanya saja, ia lebih memilih mengambil air dengan sistem bayar sesuka hati.

    Menurutnya, terdapat masjid yang menyediakan pengambilan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya untuk pembangunan masjid.

    "Gimana ya, setiap hari kita antri mengambil air, mengangkat air. Lelah juga. Paling lama pernah saya antri air setengah jam. Dan pernah juga mengambil air pagi-pagi, agar tidak perlu antri," katanya.

    Untuk itu, ia berharap air di rumahnya bisa kembali mengalir seperti sebelum bencana. Menurutnya, ia lebih memilih mengambil air dari Masjid, sekaligus sedekah untuk kemakmuran masjid.

    "Jika saya lebih memilih mengambil air di sini. Selain untuk niat berinfak, juga untuk kemakmuran masjid. Karena mengambil air di sini dibayar sesuai keinginan atau dalam bahasa lainnya infak," katanya.

    Ia berharap, air segera hidup. Karena, air adalah kebutuhan utama masyarakat.

    "Karena sudah dua bulan berlalu, harap ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Karena jika tidak ada air, penyakit bisa mulai muncul," katanya.

    Fokus terhadap Bupati Tapteng hingga pihak KLHK

    Berdasarkan keluhan ini, Tribun Medan telah mencoba mengkonfirmasi kepada Bupati Tapteng, tetapi belum mendapatkan respons.

    Sementara itu, berdasarkan akun Instagram resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah mengatakan, perbaikan air yang sudah selesai 100 persen adalah Kecamatan Barus Sosorgodang, Manduamas, Sorkam, Tapian Nauli, Sitahuis, dan Lumut.

    Untuk perbaikan air yang masih dalam proses pekerjaan sebesar 79,18 persen dan masih dalam tahap perbaikan aktif yaitu kecamatan Pandan, Sarudik, dan Tukka.

    Kemudian yang baru selesai 80 persen dan masih dalam perbaikan aktif adalah kecamatan Pinang Sori dan Kolang.

    Kecamatan yang belum dilakukan perbaikan air adalah Badiri, Sibabangun, dan Sitahuis (Aek Marende).

    "Upaya kami adalah melakukan penanganan kesehatan di seluruh Posko setiap hari. Kemudian menyediakan sanitasi seperti tempat cuci tangan atau pun disinfektan. Untuk meminimalisir penyakit ISPA," jelasnya.

    Ia mengimbau, agar para korban banjir tetap menjaga kebersihannya di lingkungan sekitar tenda pengungsian.

    "Minimal meminimalkan penyakit lain muncul dengan menjaga kebersihan sampah di sekitar kita. Dan mengikuti petunjuk dari setiap tim medis yang ada di posko," jelasnya.

    Berita virallainnya

    Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews PESANKU.CO.ID

    Komentar
    Additional JS