Sosial Media
0
News
    Home NEWS

    Danramil Belawa dan Siswa MAN Bersatu Melawan Sampah

    3 min read


    PESANKU.CO.ID, WAJO -- Kamis pagi, 5 Februari 2026, halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wajo di Kecamatan Belawa tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena upacara bendera atau lomba sekolah, melainkan karena kehadiran sekelompok prajurit berseragam loreng yang datang bukan untuk inspeksi, tetapi untuk... menyapu.

    Lettu Inf Muh. Nawir, Danramil 1406-04/Belawa, memimpin langsung anak buahnya bersama puluhan siswa dan guru MAN Wajo dalam sebuah karya bakti pembersihan lingkungan. Di tangan mereka, sapu lidi dan kantong sampah menjadi alat perjuangan hari itu—melawan sampah plastik, dedaunan kering, dan kebiasaan buruk membuang sembarangan.

    **Ketika Sekolah Menjadi Medan Perang... Melawan Sampah**

    Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat paling bersih. Tapi kenyataannya? Sering kali tidak demikian. Sampah berserakan di sudut-sudut kelas, dedaunan menumpuk di selokan, rumput liar tumbuh tak terurus. Bukan karena tidak ada yang peduli, tetapi karena kepedulian itu butuh dorongan dan contoh nyata.

    Dan pagi itu, dorongan itu datang dari sosok berbaju loreng.

    "Kebersihan itu bukan hanya tugas tukang kebun atau petugas sekolah. Ini tanggung jawab kita bersama," ujar Lettu Nawir sambil memungut botol plastik yang tergeletak di bawah pohon.

    Kata-katanya sederhana, tapi menampar halus. Para siswa yang awalnya hanya menonton, pelan-pelan mulai ikut mengambil sapu dan bergabung.

    **Gotong Royong: Pelajaran yang Tidak Ada di Buku**

    Yang menarik dari karya bakti kali ini adalah komposisi pesertanya. Danramil dan personelnya tidak datang sendiri, tetapi bersatu dengan guru dan siswa. Tidak ada sekat antara prajurit dan pelajar, antara tentara dan tenaga pendidik. Semua setara di hadapan sampah yang sama-sama harus diangkat.

    Para siswa terlihat antusias. Ada yang menyapu halaman, ada yang mengangkut sampah, ada pula yang membersihkan selokan. Sementara itu, guru-guru membantu mengkoordinir dan sesekali ikut turun tangan.

    Inilah pelajaran yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari buku paket atau layar komputer: gotong royong. Kebersamaan. Rasa memiliki terhadap lingkungan sendiri.

    **Lebih dari Sekadar Bersih**

    Kegiatan ini bukan semata soal mengangkat sampah atau memangkas rumput. Ini tentang menanamkan nilai. Tentang mengajarkan kepada generasi muda bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan urusan orang lain.

    "Kami ingin anak-anak ini paham bahwa lingkungan yang bersih dimulai dari diri sendiri," kata salah satu guru yang turut serta. "Dan melihat TNI turun tangan langsung, itu memberi contoh yang sangat kuat."

    Bagi siswa, melihat Danramil yang berpangkat Letnan Infanteri rela kotor-kotoran bersama mereka adalah pelajaran tentang kerendahan hati dan kepemimpinan yang melayani—leadership by example.

    Karya bakti seperti ini juga punya fungsi lain yang tak kalah penting: mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat, khususnya dunia pendidikan.

    Koramil 1406-04/Belawa memahami bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan hanya soal patroli keamanan atau pengamanan wilayah. Lebih dari itu, TNI harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam kegiatan sosial, dalam momen-momen sederhana yang justru membangun kepercayaan.

    Dan sekolah adalah tempat yang tepat. Karena di sinilah generasi masa depan dibentuk. Di sinilah nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan cinta tanah air bisa ditularkan dengan cara yang paling alami: bukan melalui ceramah, tetapi melalui tindakan nyata.

    Siswa MAN Wajo yang hari itu ikut turun tangan mungkin tidak langsung menyadari semua ini. Tapi kelak, ketika mereka dewasa, mereka akan ingat: pernah ada hari ketika tentara dan mereka bersama-sama menyapu halaman sekolah. Dan itu mengajarkan mereka sesuatu yang lebih berharga dari sekedar kebersihan.

    Menjelang siang, hasil kerja keras terlihat jelas. Halaman sekolah yang tadinya kusam kini tampak lebih rapi. Sampah sudah terkumpul rapi di tempat pembuangan. Selokan kembali lancar. Udara terasa lebih segar.

    "Rasanya beda ya kalau sekolah bersih begini. Semangat belajarnya jadi lebih enak," ujar salah satu siswa sambil tersenyum.

    Dan itulah tujuannya. Lingkungan yang bersih bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kenyamanan dan produktivitas. Siswa yang belajar di lingkungan bersih cenderung lebih fokus, lebih semangat, lebih sehat.

    Koramil 1406-04/Belawa menegaskan bahwa kegiatan seperti ini bukan hanya seremonial sesekali, tetapi bagian dari komitmen jangka panjang dalam membina generasi muda di wilayah binaan.

    "Kami akan terus hadir di tengah-tengah sekolah dan masyarakat. Karena membangun negara bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal karakter," kata Lettu Nawir.

    Ketika kegiatan berakhir dan personel Koramil berpamitan, yang tertinggal bukan hanya halaman yang bersih, tetapi juga kesan mendalam di hati para siswa.

    Mereka belajar bahwa tentara bukan hanya sosok yang galak dan jauh di barak, tetapi juga manusia biasa yang peduli, yang mau turun tangan, yang rela kotor demi kebersihan bersama.

    Dan bagi MAN Wajo, hari itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai di rapor, tetapi juga soal nilai-nilai kehidupan yang dipraktikkan setiap hari.

    Di Belawa, pagi itu, sebuah karya bakti sederhana menjadi simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa perubahan dimulai dari hal kecil, dari tangan-tangan yang rela kotor, dan dari hati yang tulus peduli.(*)
    Komentar
    Additional JS