Di Tengah Modernisasi, Ibu Masniati Jaga Eksistensi Kain Sutera Wajo
1 min read
PESANKU.CO.ID, WAJO – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya menjaga warisan budaya lokal terus dilakukan oleh para pengrajin di daerah. Salah satu sosok inspiratif datang dari Kabupaten Wajo, yakni Masniati, yang konsisten melestarikan kain sutera khas Wajo melalui karya tenunnya.
Sebagai istri dari anggota TNI Kodim 1406/Wajo, Masniati tidak hanya menjalankan perannya dalam keluarga, tetapi juga aktif sebagai bagian dari Persit Kartika Chandra Kirana. Namun di balik itu, ia memiliki dedikasi besar dalam menjaga tradisi menenun yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Masniati, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk tanggung jawab budaya. Setiap helai kain sutera yang dihasilkan mengandung nilai filosofi dan identitas masyarakat Wajo yang telah hidup sejak lama.
“Ini bukan hanya tentang membuat kain, tetapi menjaga jati diri dan warisan nenek moyang agar tetap hidup,” ungkapnya.
Proses pembuatan kain sutera Wajo sendiri masih mempertahankan teknik tradisional. Mulai dari pemilihan benang berkualitas hingga proses penenunan yang membutuhkan ketelitian tinggi, seluruh tahapan dilakukan dengan penuh kesabaran dan keahlian.
Kain sutera Wajo dikenal luas sebagai salah satu ikon budaya Sulawesi Selatan. Keunikan motif dan kualitasnya telah menjadikannya tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi hingga menembus pasar nasional dan internasional.
Selain berkarya, Masniati juga aktif mendorong anggota Persit lainnya untuk ikut terlibat dalam pelestarian budaya lokal. Ia percaya bahwa pemberdayaan ekonomi keluarga dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budaya.
Peran yang dijalankan Masniati menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar wacana, melainkan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Di tengah perkembangan zaman, kehadiran pengrajin seperti dirinya menjadi kunci agar identitas lokal tetap terjaga.
Melalui tangan-tangan terampil seperti Masniati, kain sutera Wajo tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga simbol kebanggaan dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*)