Prof Zainuddin Isi Khutbah Idul Adha di Masjid Agung Barru, Ajak Umat “Sembelih Ego” di Era Modern
1 min read
PESANKU.CO.ID, BARRU — Khutbah Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Agung “Nurul Iman” Kabupaten Barru menghadirkan pesan reflektif yang menyentuh kehidupan masyarakat modern. Khatib Idul Adha, Prof. Dr. Zainuddin, S.Ag., S.H., M.H., menegaskan bahwa makna qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, melainkan kemampuan manusia menaklukkan ego dan hawa nafsunya sendiri.
Dalam khutbah bertajuk “Menyembelih Ego: Qurban Terbaik di Era Modern”, Prof Zainuddin mengajak jamaah meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai simbol kepatuhan total kepada Allah SWT.
Menurutnya, ujian terbesar Nabi Ibrahim bukan sekadar keberanian mengorbankan putranya, tetapi kesiapan menempatkan perintah Allah di atas segala bentuk kecintaan duniawi.
“Yang diuji bukan hanya cintanya kepada anak, tetapi apakah masih ada sesuatu yang ditempatkan di atas perintah Allah,” ujar Prof Zainuddin di hadapan ribuan jamaah salat Idul Adha.
Direktur IV Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu menilai kehidupan modern saat ini dipenuhi berbagai bentuk “ego baru” yang tanpa sadar menjauhkan manusia dari nilai ketakwaan.
Ia menyoroti fenomena media sosial yang membuat banyak orang sibuk membangun citra diri, mengejar pengakuan, serta haus validasi melalui like, komentar, dan pujian publik.
“Di zaman sekarang, banyak orang lebih takut kehilangan pencitraan daripada kehilangan keikhlasan,” ungkapnya.
Guru besar asal Pulau Salemo itu juga menyinggung ego dalam kehidupan keluarga maupun beragama. Sikap merasa paling benar, sulit meminta maaf, hingga mudah menghakimi orang lain disebutnya sebagai penyakit hati yang harus “disembelih” layaknya hewan qurban.
Dalam khutbahnya, Prof Zainuddin turut mengutip QS Al-Furqan ayat 43 dan hadis Rasulullah SAW tentang bahaya kesombongan yang dapat menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT.
Suasana Masjid Agung “Nurul Iman” semakin khidmat saat khutbah kedua berlangsung. Jamaah diajak merenungkan hubungan dalam keluarga, luka batin yang tersembunyi, hingga pentingnya menghadirkan kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya Allah, sembelihlah ego kami. Patahkanlah kesombongan kami. Jadikanlah kami hamba yang ruku bukan hanya dalam salat, tetapi juga dalam setiap tarikan nafas kehidupan,” demikian doa yang dibacakan Prof Zainuddin dan diamini jamaah.
Melalui khutbah tersebut, Prof Zainuddin menegaskan bahwa Idul Adha sejatinya menjadi momentum membersihkan hati dari kesombongan, ambisi berlebihan, dan kecintaan dunia yang melampaui batas, agar manusia mampu meraih ketakwaan yang hakiki.(*)