Sosial Media
0
News

    Home NEWS

    Wakil Ketua DPRD Wajo Andi Merly Ajak Perempuan Kuasai Narasi di Era Digital

    2 min read

     



    PESANKU.CO.ID, WAJO – Perempuan tidak boleh lagi hanya menjadi objek sorotan publik. Di tengah derasnya arus media digital, perempuan harus tampil sebagai pemilik narasi yang mampu memengaruhi kebijakan dan membawa perubahan bagi masyarakat. Pesan itulah yang disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wajo, Andi Merly Iswita, S.Sos, dalam materi kaderisasi KOHATI bertajuk "Perempuan, Media, dan Perebutan Narasi: Antara Sorotan dan Suara Hak."

    Dalam paparannya, Andi Merly menegaskan bahwa perempuan saat ini menghadapi dua tantangan besar sekaligus. Pertama, memperjuangkan ruang untuk hadir dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Kedua, mengendalikan narasi setelah berhasil memasuki ruang tersebut agar perhatian publik tertuju pada gagasan dan kontribusi, bukan pada kehidupan pribadi atau penampilan.

    Menurutnya, perempuan yang menduduki posisi strategis masih kerap dinilai dari aspek personal, mulai dari cara berpakaian, status pernikahan, hingga ekspresi emosi. Sementara laki-laki lebih sering dinilai berdasarkan program, kebijakan, dan kapasitas kepemimpinannya.


    "Perempuan harus menjadi subjek yang menentukan arah pembicaraan. Yang disampaikan adalah ide, aspirasi, pengalaman, dan pandangan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Andi Merly.

    Anggota DPRD Wajo dua priode itu juga menyoroti perubahan lanskap media yang kini tidak lagi didominasi televisi, radio, maupun surat kabar. Kehadiran media sosial menjadikan setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan. Namun di balik peluang itu, perempuan juga menghadapi tantangan berupa stereotip gender, perundungan digital, ujaran kebencian, objektifikasi, hingga penyebaran informasi yang tidak utuh.

    Ketua PAN Wajo itu menjelaskan, suara perempuan kerap terpinggirkan akibat budaya patriarki, stereotip gender, serta minimnya representasi perempuan dalam posisi strategis. Padahal kemampuan berpikir dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kompetensi dan integritas.

    Sebagai perempuan pertama yang dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wajo, Andi Merly mengaku ingin membuktikan bahwa kehadiran perempuan di kursi pimpinan bukan sekadar simbol. Lebih dari itu, perempuan harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

    "Menjadi perempuan pertama bukanlah tujuan akhir. Tujuan sesungguhnya adalah membuka jalan bagi perempuan-perempuan berikutnya. Jangan berhenti menjadi simbol. Jadilah substansi," tegasnya.

    Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak kader KOHATI untuk memperkuat kapasitas diri melalui peningkatan pengetahuan, membangun rasa percaya diri, memanfaatkan media secara strategis, serta memperkuat solidaritas antarsesama perempuan. Menurutnya, narasi yang kuat hanya dapat dibangun oleh perempuan yang memiliki kapasitas dan keberanian untuk bersuara.

    Lebih jauh, Andi Merly menilai KOHATI memiliki peran strategis di era digital, bukan hanya sebagai ruang kaderisasi, tetapi juga sebagai pusat advokasi dan produksi narasi yang mampu melahirkan perempuan-perempuan kritis, intelektual, berintegritas, serta berpengaruh dalam kebijakan publik.

    Menutup materinya, Andi Merly mengajak seluruh perempuan untuk tidak sekadar mengejar popularitas di media sosial, tetapi memperjuangkan pengaruh yang membawa kemaslahatan.

    "Jangan hanya bercita-cita untuk dikenal. Bercita-citalah untuk didengar. Jangan hanya ingin viral. Jadilah relevan. Sebab ketika perempuan mampu mengubah sorotan menjadi suara, dan suara menjadi kebijakan, di situlah lahir perubahan yang sesungguhnya," tutupnya.(*)


    Komentar
    Additional JS