600 Hotspot Terdeteksi di Kalsel, Lanud Sjamsudin Noor Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
PESANKU.CO.ID, BANJARBARU — Upaya menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus diperkuat. Pangkalan TNI AU (Lanud) Sjamsudin Noor bersama unsur terkait kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tengah kondisi kemarau dan masih terdeteksinya ratusan titik panas.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., mengatakan hasil pemantauan satelit menunjukkan terdapat sekitar 600 titik hotspot di wilayah Kalimantan Selatan.
Namun, jumlah tersebut belum seluruhnya dapat dipastikan sebagai titik yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Validasi di lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
"Memang masih banyak hotspot yang terjadi. Dari sensor satelit yang didapat ada sekitar 600 titik. Tetapi yang kita percaya mungkin sekitar 40-an," kata Hilman.
Untuk memastikan titik panas tersebut, patroli udara menggunakan helikopter akan dilakukan. Pemantauan dari udara menjadi bagian penting dalam memvalidasi lokasi hotspot sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan.
Jika hasil validasi menunjukkan terdapat titik yang membutuhkan penanganan, pemadaman dengan dukungan pesawat akan dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
Selain patroli udara, Lanud Sjamsudin Noor juga kembali mempersiapkan pelaksanaan OMC untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan.
Hilman mengatakan OMC sebelumnya telah dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WITA di sejumlah wilayah yang memiliki prospek pertumbuhan awan.
Hasil pelaksanaan OMC tersebut, berdasarkan laporan masyarakat, hujan turun sejak sore hingga malam hari dengan durasi sekitar dua hingga tiga jam. Intensitas hujan bervariasi dari ringan hingga sedang, sementara di sejumlah wilayah dilaporkan terjadi hujan lebih deras.
Kondisi tersebut juga diperkuat melalui pengamatan citra satelit dan radar cuaca.
"Di daerah utara dan timur memang terdapat awan-awan. Sehingga harapannya daerah utara dan timur ini sedikit terbasahi sehingga mengurangi peluang kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.
Menurut Hilman, pelaksanaan OMC berikutnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Tim terlebih dahulu melakukan briefing dan analisis untuk melihat potensi pertumbuhan awan yang dapat disemai.
Jika kondisi atmosfer dan prospek awan memenuhi persyaratan, penerbangan OMC akan segera dilakukan.
Dalam pelaksanaan OMC kali ini, satu unit pesawat disiapkan untuk menjalankan misi penyemaian awan.
Sebelum penerbangan, tim akan melakukan briefing sekitar pukul 10.00 WITA dengan melibatkan para ahli dan analis yang memiliki kompetensi di bidang cuaca serta unsur pendukung lainnya.
Keputusan pelaksanaan penerbangan ditentukan berdasarkan hasil analisis kondisi atmosfer. Jika seluruh persyaratan terpenuhi, OMC diperkirakan dapat dilakukan sekitar pukul 14.00 WITA.
"Keputusannya nanti mungkin dilaksanakan siang. Rata-rata pelaksanaannya sekitar pukul 14.00, karena setelah data dikumpulkan, di situlah kita konsentrasi untuk pelaksanaan OMC," ujar Hilman.
Kondisi atmosfer yang masih sangat kering menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan OMC di Kalimantan Selatan.
Menurut Hilman, kondisi tersebut membuat pembentukan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi terbatas. Karena itu, OMC tidak dapat dilakukan setiap saat dan harus menunggu adanya peluang awan yang sesuai.
"Karena kondisi alam kita, atmosfer udara sangat kering sehingga untuk terbentuknya awan-awan konvektif atau awan yang menghasilkan air itu sangat sedikit," katanya.
Pemantauan kondisi cuaca pun dilakukan secara berkelanjutan bersama BMKG dan unsur terkait. Setiap terdapat peluang pertumbuhan awan yang dinilai potensial, tim akan segera melakukan persiapan.
Upaya tersebut dilakukan untuk menentukan momentum terbaik sehingga pelaksanaan OMC dapat memberikan hasil maksimal.
Berharap Hujan Meluas
Lanud Sjamsudin Noor berharap pelaksanaan OMC tidak hanya menghasilkan hujan di wilayah tertentu, tetapi juga membantu memperluas pembasahan di berbagai kawasan Kalimantan Selatan.
"Harapannya awan-awan tersebut bisa lebih meluas di wilayah Kalimantan Selatan. Mudah-mudahan bisa terwujud sehingga pembasahan wilayah Kalimantan Selatan bisa lebih terpenuhi selama musim kemarau ini," ujar Hilman.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menghadapi kondisi kemarau yang meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Menurutnya, pencegahan dan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, tidak hanya mengandalkan petugas pemadam di lapangan.
Di sisi lain, dukungan terhadap keselamatan personel yang terlibat dalam penanganan karhutla juga diperkuat.
Hilman mengungkapkan, pemerintah telah mengirimkan sekitar 500 paket alat pelindung diri (APD). Bantuan tersebut telah diterima melalui unsur Korem untuk selanjutnya disalurkan kepada personel yang bertugas di lapangan.
APD tersebut diperuntukkan bagi petugas yang terlibat langsung dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
"Bantuan ini untuk meningkatkan keamanan petugas-petugas pelaksana pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang ada di wilayah," katanya.
Hilman menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga harus memperhatikan keselamatan personel.
"Keamanan, kesehatan dan keselamatan personel tetap harus diperhatikan dan dijaga dengan baik," tegasnya.
Dukungan Disesuaikan Kondisi Lapangan
Hilman menambahkan, dukungan pemerintah terhadap operasi penanganan karhutla akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.
Jika kondisi masih membutuhkan tambahan dukungan, pemerintah akan terus memperkuat operasi. Sebaliknya, apabila eskalasi karhutla mulai menurun dan situasi membaik, penempatan personel maupun dukungan operasi dapat disesuaikan.
"Jika memang masih membutuhkan, pasti pemerintah akan mendorong dan mendukung. Namun, jika sudah ada eskalasi menuju menurun atau membaik, mungkin akan disuruh kembali. Intinya akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lapangan," pungkas Hilman.
Dengan pemantauan hotspot, patroli udara, dukungan pemadaman, pelaksanaan OMC, serta penyediaan perlindungan bagi personel, upaya menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan Selatan terus diperkuat.
Langkah tersebut diharapkan mampu membantu membasahi wilayah yang terdampak kekeringan sekaligus menekan risiko kebakaran meluas selama musim kemarau.(Wahyudi)