Wisuda TK dan SD, Kenangan atau Beban Baru?
4 min read
Oleh: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
(Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta)
WISUDA dahulu identik dengan perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan selama beberapa tahun, mahasiswa mengenakan toga, mengikuti prosesi akademik, kemudian menerima ijazah sebagai tanda berakhirnya masa studi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi wisuda juga semakin mudah ditemukan pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.
Pemandangannya hampir menyerupai wisuda mahasiswa. Anak-anak mengenakan toga lengkap, berjalan menuju panggung, menerima sertifikat kelulusan, kemudian berfoto bersama guru dan orang tua. Tidak jarang kegiatan dilaksanakan di hotel, gedung pertemuan, atau tempat khusus yang disewa untuk acara tersebut.
Bagi sebagian orang tua, kegiatan seperti ini tentu menyenangkan. Kelulusan anak dianggap sebagai momen yang patut dikenang. Foto mengenakan toga menjadi kenangan keluarga yang mungkin akan disimpan hingga anak dewasa. Namun, di balik kegembiraan tersebut muncul pertanyaan apakah wisuda Taman Kanak Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) benar-benar dibutuhkan sebagai bagian dari pendidikan, atau justru menjadi beban baru bagi orang tua?
Pertanyaan ini tidak berarti bahwa sekolah dilarang merayakan keberhasilan peserta didik. Setiap tahap perkembangan anak memang layak diapresiasi. Anak yang menyelesaikan pendidikan TK kemudian memasuki SD, atau siswa SD yang akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), tentu sedang melewati salah satu tahapan penting dalam kehidupannya. Persoalannya adalah ketika perayaan tersebut berkembang menjadi kegiatan yang semakin mahal dan seolah-olah wajib diikuti semua siswa.
Biaya sewa gedung, toga, dokumentasi, konsumsi, dekorasi, buku tahunan, rias, hingga pakaian orang tua dapat membuat acara sederhana berubah menjadi pengeluaran yang tidak sedikit. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi cukup, biaya tersebut mungkin tidak menjadi persoalan. Namun bagi keluarga lain, tambahan beberapa ratus ribu rupiah saja dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga. Di sinilah sekolah perlu memiliki kepekaan.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang mengurangi kesenjangan, bukan justru menjadi tempat anak-anak merasakan perbedaan kemampuan ekonomi keluarganya. Bayangkan ketika hampir seluruh teman sekelas mengikuti acara wisuda, sedangkan seorang anak tidak ikut karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya kegiatan. Secara formal mungkin acara tersebut disebut sukarela.
Namun, secara sosial, anak dan orang tua dapat merasa tidak memiliki pilihan. Inilah yang perlu diperhatikan ketika sekolah menggunakan istilah “tidak wajib”. Sebuah kegiatan memang dapat disebut tidak wajib dalam surat edaran, tetapi dalam kenyataannya dapat terasa wajib karena tekanan sosial.
Orang tua tentu tidak ingin anaknya menjadi satu-satunya siswa yang tidak mengikuti acara perpisahan. Akhirnya mereka berusaha membayar, meskipun sebenarnya pengeluaran tersebut cukup memberatkan.
Kita perlu kembali bertanya mengenai tujuan utama sebuah acara kelulusan. Apakah tujuannya memberikan penghargaan kepada anak? Jika demikian, penghargaan sebenarnya dapat diberikan melalui banyak cara yang jauh lebih sederhana.
Sekolah dapat mengadakan pentas seni, pertunjukan hasil belajar, kegiatan bersama orang tua, pemberian kenang-kenangan, atau acara pelepasan sederhana di lingkungan sekolah. Anak tetap memperoleh pengalaman yang menyenangkan tanpa harus meniru seluruh simbol wisuda perguruan tinggi. Justru untuk anak usia TK dan SD, pengalaman yang berkesan tidak selalu membutuhkan acara yang mewah.
Mereka mungkin akan lebih mengingat saat bernyanyi bersama teman, menampilkan karya di depan orang tua, berjabat tangan dengan guru, atau bermain bersama untuk terakhir kalinya daripada nama gedung tempat acara dilaksanakan. Pendidikan anak pada dasarnya bukan tentang kemegahan seremoni. Pendidikan adalah proses perkembangan.
Ukuran keberhasilan siswa SD bukan seberapa bagus toga yang dikenakan ketika lulus. Yang jauh lebih penting adalah apakah anak telah mampu membaca dengan baik, memiliki rasa ingin tahu, mampu berinteraksi dengan teman, menghormati orang lain, bertanggung jawab, serta mempunyai kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Hal yang sama berlaku pada taman kanak-kanak. TK merupakan ruang bagi anak untuk tumbuh, bermain, belajar bersosialisasi, dan mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar. Jangan sampai akhir proses pendidikan justru lebih banyak dibicarakan dari sisi dekorasi, pakaian, dan dokumentasi dibandingkan perkembangan anak itu sendiri. Persoalan wisuda TK dan SD juga perlu dilihat dari hubungan antara sekolah dan orang tua.
Keputusan mengenai kegiatan yang membutuhkan biaya seharusnya tidak dibuat secara sepihak. Sekolah perlu mendengarkan kondisi dan pandangan orang tua. Musyawarah tidak boleh hanya menjadi formalitas untuk mengesahkan kegiatan yang sebenarnya sudah dirancang sebelumnya. Orang tua harus mempunyai ruang untuk mengatakan bahwa suatu kegiatan terlalu mahal tanpa merasa dianggap tidak mendukung sekolah.
Sebaliknya, orang tua juga perlu berani membedakan antara kebutuhan pendidikan dan keinginan sosial. Tidak semua hal yang dilakukan sekolah lain harus ditiru. Tidak pula semua momen kehidupan anak harus dirayakan dengan pengeluaran besar agar dianggap berkesan. Kita hidup pada masa ketika dokumentasi semakin penting. Foto dan video mudah dibagikan melalui media sosial. Tanpa disadari, hal tersebut dapat mendorong munculnya budaya membandingkan. Sekolah A mengadakan wisuda di hotel, kemudian sekolah B merasa perlu membuat acara yang tidak kalah menarik.
Jika kecenderungan tersebut terus berkembang, kegiatan kelulusan dapat berubah menjadi semacam kompetisi citra antarsekolah. Padahal, kualitas sekolah tidak ditentukan oleh kemewahan acara perpisahannya. Sekolah yang baik justru dapat terlihat dari kualitas guru, lingkungan belajar yang aman, kemampuan mendidik karakter anak, keterbukaan terhadap orang tua, serta keberhasilan membantu setiap siswa berkembang sesuai potensinya.
Selain itu, perlu dibedakan antara wisuda dan perpisahan. Perpisahan merupakan bagian yang wajar dari perjalanan pendidikan. Anak dan guru tentu ingin mempunyai kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal setelah bertahun-tahun belajar bersama. Namun, perpisahan tidak harus selalu berbentuk wisuda.
Sekolah dapat merancang kegiatan yang lebih sesuai dengan usia peserta didik. Untuk anak TK, misalnya, kegiatan dapat berisi pertunjukan sederhana dan pameran karya. Untuk siswa SD, acara dapat diisi dengan refleksi perjalanan selama enam tahun, penampilan siswa, pemberian apresiasi, serta ucapan terima kasih kepada guru dan orang tua. Pendekatan seperti ini justru dapat memberikan nilai pendidikan yang lebih kuat.
Anak belajar bahwa keberhasilan tidak selalu harus dirayakan secara mewah. Mereka belajar menghargai proses, persahabatan, guru, dan dukungan keluarga. Di sisi lain, tidak tepat pula apabila seluruh kegiatan wisuda TK atau SD langsung dianggap buruk. Jika diselenggarakan secara sederhana, disepakati orang tua, tidak memberatkan, dan memberikan pengalaman positif bagi anak, tidak ada alasan untuk mempersoalkannya secara berlebihan. Yang harus dihindari adalah ketika seremoni berubah menjadi kewajiban sosial yang membebani.
Sekolah perlu memastikan tidak ada anak yang diperlakukan berbeda hanya karena orang tuanya memilih tidak mengikuti kegiatan tertentu. Prinsip ini penting agar sekolah tetap menjadi ruang yang inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan kondisi ekonomi keluarganya. Pemerintah dan dinas pendidikan juga memiliki peran dalam memberikan panduan. Sekolah membutuhkan batas yang jelas mengenai kegiatan yang dapat melibatkan pembiayaan orang tua. Pengawasan diperlukan agar kegiatan non akademik tidak berkembang menjadi pungutan yang justru menambah beban pendidikan keluarga.
Perdebatan tentang wisuda TK dan SD sebenarnya mengajak kita memikirkan kembali apa yang ingin kita ajarkan kepada anak mengenai keberhasilan. Apakah keberhasilan selalu harus ditandai dengan panggung besar, toga, dekorasi, dan foto profesional? Ataukah kita dapat mengajarkan bahwa keberhasilan adalah ketika seseorang telah berusaha, berkembang, menyelesaikan suatu tahap, kemudian siap menghadapi tahap berikutnya?
Wisuda TK dan SD dapat menjadi kenangan yang indah, tetapi dapat pula berubah menjadi beban baru. Perbedaannya terletak pada bagaimana kegiatan tersebut dirancang dan untuk kepentingan siapa acara itu diselenggarakan. Jika tujuannya benar-benar untuk anak, buatlah kegiatan yang menyenangkan, sederhana, inklusif, dan memiliki nilai pendidikan. Jika kegiatan justru membuat orang tua terpaksa mengeluarkan biaya di luar kemampuannya hanya agar anak tidak merasa berbeda dari teman-temannya, maka sudah saatnya konsep tersebut dievaluasi.(*)