Sosial Media
0
News
    Home berita pemerintah politik politik dan hukum politik dan pemerintahan

    Dino Patti Djalal: Kritik saya terhadap Menteri Luar Negeri Sugiono tidak bersifat pribadi

    6 min read

    Jakarta, IDN Times -Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menjadi salah satu dari sejumlah tamu penting yang diundang oleh Kementerian Luar Negeri dalam acara Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2026 pada Rabu (14/1/2026). Duduk di samping mantan Wamenlu A.M. Fachir, Dino terlihat ikut berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Sugiono.

    Momen yang terjepret oleh kamera tersebut kemudian menjadi perhatian publik. Hal ini karena beberapa waktu lalu Dino pernah menyampaikan kritik dan saran secara terbuka terhadap Sugiono. Empat kritik dan saran yang disampaikan di akun media sosial Dino itu kemudian viral dan menjadi pembicaraan publik.

    KepadaIDN Times, Dino mengatakan Sugiono tidak akan pernah mendengar masukan seperti itu jika tidak disampaikan olehnya sendiri. Bahkan, internal Kementerian Luar Negeri pun tidak akan menyampaikan masukan tersebut.

    Meskipun ia menekankan bahwa kritik dan saran tersebut bukan merupakan serangan pribadi terhadap pejabat di Partai Gerindra.

    "Kritik sayaini bukan sesuatu yang personaldan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum juga," kata Dino yang diwawancarai di sela acara penghargaan Semangat Awal Tahun (SAT) di IDN HQ, Jakarta Selatan pada Kamis (15/1/2026).

    Kehadirannya dalam acara tahunan Kementerian Luar Negeri juga bertujuan untuk menghormati undangan dari tuan rumah. Selain itu, Dino ingin menyaksikan langsung pidato yang akan menjadi rujukan kebijakan luar negeri Indonesia selama setahun ke depan. Ia mengaku senang dengan poin-poin pidato yang disampaikan oleh Sugiono.

    "Saya lihat bagus dan substansial. Itu yang memang kami harapkan," kata pria yang juga merupakan pendiri organisasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu.

    Lihat percakapan lengkapIDN Timesbersama Dino yang juga merupakan salah satu penerima penghargaan Inspiring Newsmaker of The Year 2026 dari IDN Times berikut ini.

    Bagaimana ceritanya Anda tetap diundang dalam pernyataan pers tahunan Menteri Luar Negeri setelah menyampaikan kritik dan saran terbuka terhadap Menteri Luar Negeri Sugiono?

    Pertama, saya hadir dalam PPTM (Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri) kemarin untuk menghormati Menteri Luar Negeri. Karena, saya sangat ingin mendengarkan pandangan Menteri Luar Negeri mengenaipandangan duniadan langkah-langkah politik ke depan.

    Alhamdulillah, yang saya dengar kemarin itu adalah suatupidato kebijakanyang pertama kali ditunjukkan oleh beliau sejak terpilih menjadi Menteri Luar Negeri 13 bulan lalu. Jadi, saya sangat senang bahwa ini bisa dijadikan bahan kajian bagi kami. Ini juga diperlukan oleh perwakilan Indonesia di luar negeri. Jadi, saya datang untuk menghormati beliau.

    Kedua, kritik yang saya sampaikan jugatidak personalTapi, itu adalah sesuatu yang menurut saya, jika saya tidak mengatakannya, maka Beliau tidak akan mendengar dari orang lain. Mengapa? Karena tidak ada yang ingin menyampaikannya kepada Beliau, baik dari dalam maupun luar Kementerian Luar Negeri.

    Padahal, apa yang saya nyatakan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi Beliau. Dan saya yakin Beliau sebagai seorang pemimpin, bisa menerima ini secara terbuka, dan bisa dijadikan masukan untuk benar-benar menjalankan tugas Beliau.

    Apakah Anda dan Menteri Luar Negeri Sugiono sempat berbincang sebelum atau setelah PPTM?

    Tidak. Hanya sekadar berjabat tangan saja. Berjabat tangan itu sebelum acara PPTM dimulai. Sebenarnya, saya juga ingin berbicara. Tapi, saya melihat Beliau sedang sibuk, jadi saya akan melakukannya lain kali. Mudah-mudahan jika saya meminta waktu dengan Beliau, Beliau bisa dihubungkan.

    Apakah menurut Anda jumlah posisi wakil menteri luar negeri yang ada saat ini masih perlu ditambah? Anda sendiri dulu kan juga pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.

    Saya berharap itu hanya lelucon, karena saat Beliau mengatakannya, Beliau tertawa seperti itu. Dan fenomena Wakil Menteri Luar Negeri itu baru terjadi sekali. Saat era Presiden ke-6 SBY, memang Beliau menunjuk Wakil Menteri Luar Negeri.

    Saya termasuk dalam wamenlu yang terakhir pada masa kepemimpinan Pak SBY. Saat itu hanya ada satu wamenlu. Sekarang tiga, untuk Indonesia sudah cukup banyak dan menurut saya tidak perlu ditambah satu lagi.

    Mungkin yang perlu diperbaiki, ini berdasarkan pengakuan beliau sendiri ya, bahwa saya jarang bertemu dengan tiga wamenlu-nya. Dia mengaku jarang bertemu dengan semuanya karena semua, termasuk Pak Menlu, sama-sama sibuk.

    Itu mungkin mencerminkan pembenaran bahwa apa yang saya sampaikan dalam video beberapa hari yang lalu. Bahwa, Menteri Luar Negeri membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengurus Kementerian Luar Negeri dan para wakil menterinya.

    Mungkin bisa bertemu seminggu sekali. Jika tidak bisa, maka sebulan sekali (pertemuan menteri luar negeri dan wakil menteri luar negeri). Tapi, seharusnya dilakukan sebanyak-banyaknya karena semuanya perlu koordinasi.

    Menurut saya tiga wamenlu sudah cukup, tetapi perlu ada koordinasi di antara mereka, oleh karena itu Menteri Luar Negeri perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk berada di Kemlu secara fisik.

    Apakah jarangnya Menteri Luar Negeri di kantor Kementerian Luar Negeri karena Sugiono juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Partai Gerindra?

    Tentu, tentu. Karena beliau juga diberi posisi sebagai sekretaris jenderal sebuah partai politik dan sebagai sekjen tugas utamanya adalah memenangkan Pemilu 2029. Sekretaris jenderal partai politik memiliki tugas untuk mengurus ranting-ranting dan seluruh anggota partai tersebut.

    Anggota partai harus puas dan harus aktif dalam kegiatan partai. Pendanaan harus baik, kantor-kantor harus dikelola.

    Setiap kali anggota partai menelepon dan meminta untuk bertemu, harus dilayani. Jadi, menurut saya, itu adalah tugas yang harus dijalani.sepenuh waktu. Jika tugas itu tidak dilaksanakanpenuh waktujuga akan jadi salah satu ya?

    Sementara itu, dunia diplomatik juga demikian. Berbagai masalah internasional, baik di kawasan maupun global, Kementerian Luar Negeri memiliki 2.000 diplomat dan sekitar 100 kantor perwakilan di luar negeri dengan isu-isu yang sangat kompleks, hal ini juga membutuhkan perhatian yangsepenuh waktu.

    Jadi, bagaimana Beliau bisa membagi waktu, itu harus cerdas (menyediakan waktunya). Namun, kita tidak bisa menipu diri sendiri dan mengatakan 'oh, keduanya cocok', itu tidak mungkin.

    Jelasnya dua posisi itu saling bertentangan. Ini pendapat saya secara objektif.

    Apakah ada respons dari Menteri Luar Negeri setelah Anda menyampaikan kritik dan saran?

    Sama sekali tidak ada. Dari Menteri Luar Negeri tidak ada, dari wakil menteri luar negeri tidak ada (yang memberikan respons). Begitu juga dari direktur jenderal, tidak ada yang merespons. Jadi sampai sekarang tidak ada respons apapun terkait pendapat saya beberapa hari yang lalu.

    Tentu saya berharap ada respons. Apalagi ini akan menjadi berita nasional, viral dan menjadi bahan pembicaraan di berbagai pihak.

    Namun, saya senang karena setidaknya ada indikasi bahwa respons tidak dilakukan dengan menghubungi saya, atau memberikan pernyataan, tetapi akun Instagram Beliau (Menteri Luar Negeri) sekarang memiliki suaranya. Jadi, ada penyesuaian.

    Kemarin ketika PPTM menjadipidato kebijakandan Beliau juga mengatakan bahwa ingin menjadikan Kemlu sebagai rumah kita bersama. PPTM kemarin juga disiarkan di kampus-kampus meskipun tidak ada sesi tanya jawab tetapi ini bisa menjadi harapan.

    Harapan saya cukup sederhana, penjelasan seperti ini harus dilakukan secara rutin, bukan setahun sekali. Karena itu tugas seorang Menteri Luar Negeri. Apalagi Beliau juga menegaskan dan sudah saya tekankan bahwa kebijakan luar negeri dimulai dari dalam negeri. Mudah-mudahan lebih sering (dilakukan) karena itu yang diinginkan oleh publik dan masyarakat internasional.

    Bagaimana respons Anda terhadap pandangan kritik dan saran yang disampaikan secara terbuka karena Menteri Luar Negeri Sugiono tidak bersedia hadir di acara FPCI?

    Poin utama saya adalah dalam kurun waktu satu tahun terakhir, beliau tidak pernah hadir untuk memberikan penjelasan. Jadi, secara umum, beliau tidak hadir di kampus, tidak hadir tidak hanya di acara yang diselenggarakan oleh FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia), CSIS (Centre for Strategic and International Studies) dan di mana pun.

    Jadi, bukan hanya undangan dari FPCI yang tidak direspons. Tetapi, undangan-undangan dari pihak lain juga tidak direspons oleh Beliau.

    Maka saya katakan Beliau jauh sekali dari komunitas. Kan ini ada komunitas dan konstituennya.

    Sementara untuk FPCI, memang konferensi yang kami selenggarakan telah bersertifikat dan dinyatakan sebagai konferensi politik luar negeri terbesar di dunia. Jadi, di mana pun di luar negeri tidak ada konferensi politik luar negeri yang mampu menghadirkan sekitar 10 ribu hingga 11 ribu orang yang hadir.

    Bagi kami, wajar jika merasa kecewa. Jika undangan dari kami direspons dengan "oh, maaf kami tidak bisa datang, setidaknya itu bisa menghibur kami". Tapi, benar-benar tidak ada respons.

    Saya dulu juga adalah orang pemerintah dan ini bukan cara birokrasi dan komunikasi yang baik. Ini juga bukanbagian dari tata kelola yang baik.Maka saya menyampaikan kritik secara terbuka. Hal semacam ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut hingga empat tahun ke depan.

    Yang rugi adalah Kemlu, Menlu, Presiden Prabowo dan Indonesia. Politik luar negeri bukanlah tugas intel atau BIN (Badan Intelijen Negara). Kita harus selalu bersuara. Senjata kita adalah vokalitas.

    Apa pendapat Anda mengenai pernyataan pers tahunan Menteri Luar Negeri pada tahun 2026?

    Saya senang denganpidatoDia. Saya melihatnya bagus dan substansial. Itu yang memang kami harapkan. Jadi, asumsi kita,pandangan dunia, pandangan, kekhawatiran Indonesia, interpretasi Indonesia terhadap kondisi dunia. Jadi, itu yang kami ingin dengar dan apa langkah selanjutnya.

    Tentu saja ada hal-hal yang bisa diperdebatkan lebih lanjut. Tapi, setidaknya sudahawal yang baik. Beliau juga telah menulis pandangan beliau di artikel di harianJakarta PostJadi, kamimenghargaidan kami berharap menjadinormal yang barudan disampaikan oleh Menteri Luar Negeri kepada publik.

    Saya yakin para diplomat kita akan bahagia karena seperti yang saya sampaikan dalam video, ada penurunan moral sebagai dampak dari pemotongan anggaran yang sangat drastis. Suka atau tidak suka, ini adalah realitanya. Hal ini harus dipikirkan oleh Menteri Luar Negeri bagaimana demoralisasi ini dapat diatasi.

    Dino Patti Djalal: 3 Wamenlu Saat Ini Sudah Cukup, Tidak Perlu Ditambah Menteri Luar Negeri Sugiono Berjabat Tangan Dino Patti Djalal di Acara Tahunan Kementerian Luar Negeri
    Komentar
    Additional JS