Sosial Media
0
News
    Home bisnis keamanan kesehatan kesehatan masyarakat narkoba

    Dr. Anesia Tania membagikan risiko toksin ilegal hingga pemilihan toksin yang aman

    4 min read

    Prosedur estetika berbasis toksin botulinum kini semakin populer, terutama di kalangan generasi muda. Mulai dari menghaluskan kerutan, memperbaiki kontur wajah, hingga mengatasi masalah medis tertentu,pengobatanIni sering kali terlihat praktis dan instan.

    Sayangnya, di balik tren yang berkembang pesat di media sosial, muncul pula risiko penggunaan toksin ilegal yang beredar di pasar gelap dengan harga jauh lebih terjangkau.

    Mengangkat fenomena ini, melalui wawancara dengan tim Popbela, dr. Anesia Tania, Sp.KK, membagikan edukasi penting mengenai bahaya toksin ilegal, risiko kesehatan yang mungkin muncul, hingga cara memilih produk toksin yang aman dan terjamin secara medis. Simak pembahasannya di bawah ini.ayo, Bela!

    Alasan di Balik Toksin Ilegal Sangat Berbahaya

    Menurut dr. Anesia Tania, Sp.KK, penggunaan toksin yang tidak memiliki izin atau didistribusikan secara ilegal menyimpan banyak risiko serius. Salah satu masalah utama adalah ketidakpastian kualitas produk. Pasien maupun dokter tidak dapat memastikan bagaimana proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi toksin tersebut dilakukan.

    Yang pertama kita tidak tahu apakah barangnya asli atau palsu. Jadi benar tidaknya isinya toksin botulinum dan mereknya apa? Kedua, yang penting adalah jika kita menyuntikkan sesuatu maka harus steril.," jelas Dr. Anesia.

    Proses sterilisasi harus dijaga sejak tahap produksi, distribusi, hingga teknik penyuntikan oleh dokter. Jika produk bersifat ilegal—baik palsu maupun masuk melalui jalur distribusi tidak resmi—jaminan sterilitas tidak lagi bisa dipastikan. Risiko kontaminasi virus dan bakteri pun menjadi jauh lebih tinggi.

    Selain itu, toksin botulinum merupakan protein yang sangat peka terhadap suhu. Produk ini harus disimpan dan distribusikan menggunakan sistemrantai dingindengan suhu ideal antara 2–8 derajat Celsius. Jika toksin dibawa secarabawa sendiriatau dikirim melalui jalur ilegal, tidak ada jaminan bahwa suhu penyimpanan tersebut tetap terjaga. Ketikarantai dinginterganggu, efektivitas produk bisa menurun drastis atau bahkan menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

    Standar Dokter dalam Memilih Produk Toksin yang Aman

    Dari sudut pandang medis, dr. Anesia Tania, Sp.KK menegaskan bahwa pemilihan toksin tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada beberapa standar penting yang selalu menjadi pertimbangan dokter sebelum menggunakan suatu produk.

    Pertama, melihat siapa produsen toksin tersebut. Apakah berasal dari perusahaan legal dan bereputasi baik di negara asalnya. Kedua, memastikan produk sudah memiliki nomor BPOM dan resmi diizinkan untuk diedarkan di Indonesia. Legalitas ini menjadi tanda penting bahwa produk telah melalui uji keamanan dan efikasi. Ketiga, peran distributor dan prinsipal juga tidak kalah penting.

    Selain kualitas obat, kemampuan dan kompetensi dokter yang menyuntikkan toksin menjadi faktor utama. Dokter harus memahami dosis yang tepat, area penyuntikan, kedalaman jarum, hingga potensi efek samping yang mungkin muncul.

    Produk dari perusahaan besar biasanya sudah memiliki penelitian jangka panjang terkait efektivitas, keamanan, serta standar dosis. Inilah alasan mengapa dokter cenderung memilih produk dengan riwayat riset yang jelas dibandingkan produk murah tanpa kejelasan asal-usul.

    Harga Terlalu Murah Bisa Jadi Tanda Bahaya

    Dari sisi pasien, Dr. Anesia Tania, Sp.KK menekankan bahwa tidak semua hal teknis perlu dipahami secara mendalam. Namun, ada beberapa indikator sederhana yang bisa menjadi pegangan. Salah satunya adalah harga.

    Toksin yang berasal dari distributor resmi dan telah terdaftar BPOM biasanya memiliki harga yang relatif standar di pasaran. Jika harga yang ditawarkan terlalu murah dan jauh di bawah standar, maka patut dicurigai.

    Dampak yang paling sering ditemui dari penggunaan toksin ilegal adalah hasil yang tidak dapat diprediksi. Efeknya bisa sangat berbeda dari yang seharusnya. Misalnya, dosis tertentu yang biasanya memberikan hasil optimal dalam dua minggu justru tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

    Bahkan, dalam beberapa kasus, hasilnya menjadi tidak simetris—satu sisi wajah terlihat baik, sementara sisi lainnya tidak memberikan efek yang sama. Selain itu, efek samping lokal juga lebih sering terjadi. Jika pada toksin yang baik bekas suntikan biasanya cepat menghilang, pada toksin ilegal bekas suntikan bisa bertahan lebih lama, disertai kemerahan, gatal, nyeri, hingga reaksi inflamasi yang jarang ditemui pada produk resmi.

    Dampak Media Sosial Bagi Pasien Pemula

    Fenomena media sosial turut berperan besar dalam meningkatnya penggunaan toksin botulinum, khususnya di kalangan pasien pemula. dr. Anesia Tania, Sp.KK menjelaskan bahwa pasien yang sudah lama menjalanipengobatanbiasanya lebih memahami mengenai produk, proses, dan standar harga.

    Sebaliknya, banyak pasien baru—termasuk pemuda, Gen Z, hingga pria yang sebelumnya tidak pernah melakukan perawatan estetika—datang ke klinik karena terpengaruh konten media sosial. Visual hasil instan, narasi "cepat dan mudah", serta harga murah sering kali menjadi daya tarik utama.

    Karena kurang pengalaman, kelompok pasien ini lebih rentan tergoda oleh penawaran yang tidak realistis. Padahal, prosedur medis tetap memerlukan standar keamanan yang ketat dan tidak bisa disamakan dengan tren instan di media sosial.

    Peran Daewoong dalam Memastikan Keamanan Produk

    Dr. Anesia Tania, Sp.KK menyoroti Daewoong sebagai salah satu perusahaan besar asal Korea yang produknya telah lama masuk ke Indonesia dan terdaftar BPOM. Dari sisi pabrik, sistem perusahaan, hingga dukungan pelatihan dan penanganan kasus, semuanya sudah mengikuti standar ketat baik di Korea maupun Indonesia.

    Perusahaan resmi biasanya juga menyediakan berbagai sistem keamanan pada kemasan, seperti kode QR, nomor batch, dan detail kemasan untuk membedakan produk asli dan palsu. Hal ini penting mengingat toksin botulinum—terutama produk dari Korea—menjadi salah satu yang paling sering dipalsukan di pasar gelap.

    Namun demikian, Dr. Anesia menegaskan bahwa pada prinsipnya semua produk yang telah disetujui BPOM seharusnya memenuhi standar yang sama. Tantangannya adalah keberadaan produk ilegal dan palsu yang masih beredar di luar jalur resmi.

    Keamanan Jangka Panjang Toksin Botulinum

    Dalam praktik klinis, injeksi toksin botulinum memerlukan sesitindak lanjutuntuk mengevaluasi hasil. Biasanya, kontrol dilakukan 2 minggu setelah penyuntikan, terutama untuk area otot kecil seperti sekitar mata dan dahi. Untuk otot yang lebih besar, seperti rahang atau area tubuh, evaluasi bisa dilakukan hingga 6–8 minggu.

    Sementara itu, durasi efek toksin botulinum rata-rata bertahan hingga enam bulan, tergantung pada area dan kondisi masing-masing pasien. Menariknya, toksin botulinum sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1980-an dan menjadi salah satu prosedur medis yang paling lama diteliti.

    Dengan penelitian jangka panjang dan pengalaman klinis puluhan tahun, toksin botulinum Daewoong termasuk aman selama produk yang digunakan berkualitas dan penyuntikan dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.

    Beredarnya toksin ilegal menjadi pengingat bahwa prosedur estetika bukan sekadar soal hasil instan. Edukasi, kehati-hatian, dan pemilihan produk yang tepat adalah kunci utama untuk menjaga keamanan dan kesehatan jangka panjang. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bela.

    Daewoong dan BPOM Memperkuat Melawan Distribusi Toksin Ilegal Apa Itu Microneedling Treatment? Solusi Perawatan Anti-Penuaan yang Populer! Dermapen™ & Aesendia Perkenalkan Teknologi Baru Painless Microneedling
    Komentar
    Additional JS