Sosial Media
0
News
    Home inovasi nutrisi petani rekayasa teknologi

    Insinyur untuk kemandirian pangan

    3 min read

    Insinyur untuk kemandirian pangan

    Dr Ir A Muhammad Syafar AMd ST MT IPM

    Dosen Teknik Informatika UIN Alauddin Makassar

     

    KEMANDIRIANPangan bukan sekadar jargon pembangunan, melainkan prasyarat utama bagi kedaulatan sebuah bangsa.

    Negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu berada dalam posisi rentan baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

    Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, membutuhkan pendekatan baru yang lebih sistematis dan berbasis ilmu pengetahuan.

    Di sinilah peran insinyur menjadi sangat krusial.

    Selama ini, diskursus pangan sering terjebak pada isu produksi semata: beras, pupuk, dan lahan.

    Padahal, masalah pangan jauh lebih kompleks.

    Ia mencakup sistem irigasi, teknologi pasca panen, rantai distribusi, efisiensi energi, mekanisasi pertanian, hingga pengolahan dan penyimpanan hasil pangan.

    Semua aspek tersebut merupakan wilayah kerja para insinyur, baik insinyur pertanian, sipil, mesin, industri, kimia, maupun teknologi informasi.

    Dari sudut pandang pro rakyat, kemandirian pangan tidak boleh diartikan sebatas peningkatan produksi nasional, melainkan peningkatan kesejahteraan petani kecil sebagai produsen utama pangan.

    Di sinilah peran insinyur diuji: apakah teknologi yang dirancang benar-benar mempermudah hidup petani, atau justru menambah ketergantungan pada modal besar dan impor alat.

    Banyak petani masih menghadapi masalah dasar biaya produksi yang tinggi, alat pertanian yang tidak terjangkau, dan hasil panen yang tidak sebanding dengan usaha mereka.

    Insinyur yang berpihak pada rakyat harus mampu merancang teknologi sederhana, murah, dan mudah dipelihara.

    Mekanisasi pertanian skala kecil, alat pasca panen berbasis komunitas, serta teknologi pengolahan hasil pertanian di desa merupakan bentuk keberpihakan yang nyata.

    Tanpa keberpihakan sosial, teknologi hanya akan memperlebar kesenjangan.

    Kemandirian pangan sejati hanya terwujud jika petani menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek penerima proyek.

    Insinyur berperan sebagai penghubung antara sains dan kebutuhan masyarakat nyata.

    Dalam konteks pangan, insinyur tidak hanya dituntut untuk menciptakan teknologi canggih, tetapi juga solusi yang efektif, terjangkau, dan berkelanjutan.

    Sistem irigasi presisi yang hemat air, alat mesin pertanian untuk petani kecil, teknologi pengeringan hasil panen berbasis energi terbarukan, hingga sistem logistik pangan yang efisien adalah contoh kontribusi nyata keinsinyuran bagi kemandirian pangan nasional.

    Kemandirian pangan juga tidak dapat dipisahkan dari tantangan perubahan iklim.

    Cuaca ekstrem, kekeringan, dan banjir semakin sering mengancam produktivitas pertanian. Insinyur memiliki peran strategis dalam merancang sistem adaptasi dan mitigasi, seperti teknologi irigasi cerdas berbasis sensor, bendungan multifungsi, serta rekayasa lahan yang ramah lingkungan.

    Tanpa dukungan teknik yang kuat, sektor pangan akan semakin tertinggal dalam menghadapi krisis iklim global.

    Sayangnya, peran insinyur di sektor pangan belum sepenuhnya mendapat perhatian yang memadai.

    Pembangunan pertanian masih sering dipandang sebagai urusan tradisional, bukan sebagai sektor strategis yang berbasis teknologi.

    Akibatnya, banyak inovasi hasil penelitian perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang tidak sampai kepada petani. Kesenjangan antara laboratorium dan sawah masih menjadi masalah klasik.

    Pemerintah perlu menempatkan insinyur sebagai aktor utama dalam kebijakan pangan nasional.

    Ini dapat dilakukan melalui penguatan pendidikan keinsinyuran yang berorientasi pada ketahanan dan kemandirian pangan, peningkatan peran insinyur dalam perencanaan pembangunan pertanian, serta insentif bagi inovasi teknologi pangan lokal.

    Kolaborasi antara insinyur, petani, pelaku industri, dan pembuat kebijakan harus menjadi ekosistem yang saling menguatkan.

    Di sisi lain, para insinyur juga dituntut untuk lebih realistis.

    Tantangan pangan Indonesia tidak selalu memerlukan teknologi mahal dan rumit. Justru, solusi sederhana yang dirancang dengan pendekatan sosial dan kearifan lokal sering kali lebih efektif.

    Insinyur harus hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan petani, dan merancang teknologi yang benar-benar dapat digunakan, bukan sekadar dipamerkan.

    Kemandirian pangan pada akhirnya adalah soal ketergantungan.

    Kepentingan terhadap produksi dalam negeri, petani kecil, dan keberlanjutan lingkungan.

    Insinyur, dengan kompetensi teknis dan etika profesinya, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa pengembangan teknologi pangan tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga keadilan dan keberlanjutan.

    Indonesia memiliki sumber daya manusia insinyur yang besar.

    Tantangannya adalah bagaimana mengarahkan potensi tersebut untuk menjawab masalah strategis bangsa.

    Jika insinyur diberi ruang, kepercayaan, dan dukungan kebijakan yang tepat, kemandirian pangan bukanlah utopia.

    Ia adalah tujuan yang realistis dan dapat dicapai demi masa depan bangsa yang berdaulat dan berdaya tahan.(*)

    Komentar
    Additional JS