Sosial Media
0
News
    Home salon kecantikan yoga

    Jangan asal melakukan headstand jika tidak ingin mengalami saraf terjepit di leher!

    2 min read

    Sedang gila yoga akhir-akhir ini? Jika ya, Anda pasti pernah melihat seseorang atau guru yoga Anda melakukan pose dengan kedua kaki di udara dan kepala di lantai. Pose satu ini disebut headstand.

    Banyak pemula yoga yang menyukai pose headstand karena berbagai alasan, misalnya bentuknya yang tidak biasa, indah, dan menakjubkan. Ada juga yang tertarik karena pose ini dalam yoga disebut sirsasana (bahasa Sansekerta) memang tidak mudah untuk dicapai. Bahkan jika seseorang berlatih setiap hari, belum tentu bisa melakukannya dengan teknik yang baik dan aman.

    Bukan untuk Pemula

    Dalam yoga itu sendiri, headstand bukanlah pose yang diperbolehkan dilakukan oleh pemula. Para praktisi yoga yang rutin berlatih 6 hari seminggu pun baru diajarkan headstand setelah secara rutin berlatih selama minimal 6 bulan, setidaknya demikian menurut aturan latihan BKS Iyengar, pendiri Iyengar Yoga dalam bukunya Light on Yoga. Jadi, merupakan kesalahpahaman jika seseorang yang baru saja mencoba kelas yoga pertamanya kemudian mencoba melakukan headstand. Tentu sangat berisiko dan bisa membahayakan diri sendiri.

    Tren headstand di kalangan pemula yoga belakangan ini dapat dilacak dari maraknya acara dan kelas yoga yang diajarkan oleh 'guru-guru' yoga yang kurang kompeten dan profesional. Mereka yang belum memiliki sertifikat pelatihan guru yoga 200 jam seharusnya tidak mengajar pose-pose tingkat lanjut seperti headstand hanya demi konten media sosial. Hal ini karena teknik headstand cukup kompleks dan risikonya tidak boleh dianggap remeh.

    Risiko Saraf Terjepit di Leher

    Tren headstand ini juga memicu munculnya sejumlah kasus saraf leher yang terjepit. Akibat teknik headstand yang salah, sejumlah praktisi yoga harus berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi.

    Hal ini disampaikan oleh dr. Edbert melalui akun Instagramnya @dr.edbert yang mengingatkan para praktisi yoga tentang risiko saraf leher yang terjepit jika headstand dilakukan secara sembarangan, tanpa teknik yang tepat dan dilakukan tanpa pengawasan dari guru yoga yang kompeten dan profesional di bidangnya. Contoh gejala saraf leher yang terjepit adalah adanya rasa kesemutan atau mati rasa dari leher hingga ke lengan. Anda dapat menyimak pernyataan lengkap dokter tersebut di atas.

    Dan memang, jika dilihat dari sudut pandang anatomi tubuh, area leher merupakan salah satu area yang paling rentan yang dilalui oleh jaringan saraf dari otak menuju ke berbagai anggota tubuh, mulai dari lengan hingga kaki. Jadi, jika terjadi gangguan pada saraf leher, dampaknya bisa dirasakan hingga ke seluruh anggota tubuh kita. Itulah sebabnya peringatan ini bukan bertujuan untuk menakuti-nakuti, tetapi lebih pada edukasi keselamatan dan kesehatan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

    Teknik Tepat Headstand

    Meskipun namanya headstand, posisi ini sebenarnya idealnya tidak menggunakan bagian belakang kepala sebagai titik tumpuan utama. Dalam bukunya yang berjudul Science of Yoga, Ann Swanson menyatakan bahwa kesalahpahaman tentang headstand adalah banyak orang yang mengira titik tumpuan utamanya adalah bagian belakang kepala, padahal jika ingin lebih aman, titik tumpuan utamanya seharusnya berada di siku lengan dan kepalan tangan yang membentuk segitiga dasar headstand.

    Jadi bayangkan Anda membagi berat badan ke tiga titik tumpuan utama, yaitu kedua siku dan kepalan tangan, serta satu titik tumpuan sekunder, yaitu ubun-ubun kepala. Dan perkiraan persentase besaran tumpuannya sekitar 30 persen berat badan untuk siku kanan, siku kiri, dan kepalan tangan. Lalu bagaimana dengan 10 persen sisanya? Nah, itu baru bisa diberikan pada ubun-ubun kepala. Dengan begitu, beban yang dikenakan ke leher menjadi lebih ringan. Pada saat yang sama, risiko tertekannya saraf leher menjadi lebih berkurang meski tidak sepenuhnya hilang.

    Orang-orang yang Dilarang Berdiri di Kaki

    Namun, jika Anda benar-benar ingin melindungi area leher secara menyeluruh, sangat disarankan untuk melakukan latihan penguatan leher dengan menggunakan resistance band dan juga menggunakan alat bantu seperti inversion chair untuk headstand. Hal ini belum banyak dilakukan di kelas yoga populer di Indonesia terutama Jakarta dan sekitarnya.

    Jika memang leher sudah melemah, disarankan juga untuk tidak melakukan variasi headstand lain yang jauh lebih berisiko seperti tripod headstand yang lebih banyak menggunakan kepala sebagai tumpuan utama.

    Bagi yang sedang mengalami menstruasi, migrain, tekanan darah tinggi/rendah, kehamilan, cedera punggung/tulang belakang, sakit jantung, diabetes, minus tinggi, glaukoma tidak disarankan untuk melakukan headstand. (*/)

    Komentar
    Additional JS