Sosial Media
0
News
    Home berita jurnalistik kontroversi olahraga politik

    Kritik tajam! Para peneliti menganggap larangan Bonek hadir di pertandingan PSIM vs Persebaya merugikan transformasi sepak bola modern

    3 min read

    PESANKU.CO.ID—Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus peneliti budaya sepak bola, Fajar Junaedi memberikan kritik tajam. Pihaknya menilai larangan kehadiran Bonek dalam pertandingan PSIM Jogja melawan Persebaya Surabaya merupakan kemunduran serius bagi transformasi sepak bola modern di Indonesia.

    Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya bermasalah secara historis, tetapi juga merugikan dari segi ekonomi, tata kelola, dan pembelajaran penyelenggaraan pertandingan yang berisiko tinggi.

    Laga big match PSIM Jogja melawan Persebaya Surabaya pada pekan ke-18 Super League 2025/2026 menarik antusiasme besar dari publik.

    Pertandingan yang diadakan di Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu (25/1) pukul 15.30 itu bahkan memicu keluhan terkait keterbatasan kuota dan akses tiket.

    Ia menilai larangan pendukung tamu tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.

    "Larangan bagi suporter tamu terjadi setelah tragedi Kanjuruhan. Padahal saat tragedi Kanjuruhan tidak ada suporter tamu," kata Fajar Junaedi kepada PESANKU.CO.ID, Senin (26/1/2026).

    Menurutnya, tragedi kelam dalam pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya sama sekali tidak melibatkan suporter tamu.

    "Ketika pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang berakhir buruk itu hanya melibatkan suporter tuan rumah," katanya.

    Fajar menegaskan kerusuhan terjadi antara suporter tuan rumah dan aparat keamanan. "Artinya tidak ada peran suporter tamu dalam tragedi Kanjuruhan," lanjutnya.

    Ia juga menyoroti jatuhnya korban jiwa yang mencapai 135 orang sebagai akibat dari buruknya tata kelola pertandingan.

    "Kematian korban sebanyak 135 orang adalah akibat dari pengelolaan dan mitigasi yang buruk oleh panitia penyelenggara dan klub tuan rumah," tegasnya.

    Fajar menilai kebijakan lanjutan berupa larangan bagi suporter tamu justru tidak relevan. "Anehnya, kemudian muncul larangan suporter tamu," katanya.

    Selanjutnya, ia menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah yang ahistoris dan salah sasaran.

    "Kesalahan suporter tuan rumah, panitia, klub dan aparat keamanan justru ditimpakan kepada semua suporter klub-klub sepak bola yang lain," katanya.

    Dalam konteks reformasi sepak bola nasional, Fajar melihat larangan suporter tamu sebagai penghalang besar. "Larangan suporter tamu justru merugikan reformasi tata kelola kompetisi sepak bola yang modern," katanya.

    Ia menjelaskan kerugian pertama muncul dari sisi ekonomi pertandingan. "Pertama, secara ekonomi telah menyebabkan hilangnya potensi away equity atau ekuitas tandang," kata Fajar.

    Konsep keuntungan tamu merujuk pada dampak ekonomi dari kehadiran suporter tamu.

    "Konsep ini merujuk pada dampak ekonomi yang dihasilkan oleh pendukung klub sepak bola ketika melakukan perjalanan ke pertandingan tandang," jelasnya.

    Menurut Fajar, efek ekonomi tersebut mencakup sektor transportasi hingga akomodasi lokal. "Seperti peningkatan pendapatan untuk akomodasi lokal," tambahnya.

    Ia memberikan contoh langsung dalam pertandingan PSIM melawan Persebaya Surabaya di Bantul. "Dalam konteks pertandingan PSIM vs Persebaya tanggal 25 Januari 2026 ini, kehilangan nilai tukar tandang terjadi," katanya.

    Fajar menyoroti fakta bahwa suporter Persebaya Surabaya yang dipulangkan telah membeli tiket kereta api. "Artinya mereka punya daya beli," katanya.

    Kerugian kedua, menurut Fajar, berkaitan dengan proses pembelajaran panitia pelaksana. “Kedua, panpel tidak akan pernah berproses untuk menerima suporter tamu,” katanya.

    Padahal, proses tersebut penting untuk meningkatkan kualitas mitigasi risiko. "Proses yang seharusnya bisa mencegah potensi negatif, dan sebaliknya bisa mendorong potensi positif," katanya.

    Ia kembali menegaskan dampak positif yang dapat muncul dari ekuitas tandang. "Seperti dampak dari ekuitas tandang," tambahnya.

    Selain itu, kehadiran suporter tamu juga berdampak langsung pada pendapatan klub tuan rumah. "Kedatangan suporter tamu akan meningkatkan penjualan tiket," jelas Fajar.

    "Artinya klub tuan rumah mendapat pendapatan," lanjutnya menegaskan.

    Di sisi lain, Panitia Pelaksana PSIM Jogja memberikan klarifikasi terkait kebijakan tersebut. Ketua Panpel PSIM Jogja Wendy Umar Seno Aji menyebut keputusan diambil melalui pertimbangan berlapis.

    Ia mengatakan kebijakan mengacu pada rekomendasi keamanan dan hasil penilaian risiko dari kepolisian. Regulasi dari I.League selaku operator kompetisi juga menjadi dasar utama.

    "Langkah ini diambil semata-mata demi menjaga kondusivitas pertandingan dan keamanan seluruh pihak yang hadir di SSA," kata Wendy.

    Berdasarkan rapat koordinasi, kuota penonton ditetapkan sebanyak 8.000 orang. Jumlah tersebut dinilai sebagai batas aman untuk pengendalian massa.

    "Kami memahami kekecewaan para penggemar yang tidak mendapatkan tiket, tetapi prioritas kami adalah keselamatan terlebih dahulu," katanya.

    Distribusi tiket difokuskan melalui Brajamusti dan The Maident. Wendy menyebut langkah ini untuk mempermudah koordinasi di lapangan.

    "Kami tetap membuka ruang dialog dan evaluasi," katanya menutup.

    Meskipun demikian, kritik Fajar Junaedi menjadi pengingat penting bahwa transformasi sepak bola modern menuntut keberanian dalam mengelola risiko, bukan sekadar menghindarinya.

    Larangan suporter tamu, dalam konteks ini, justru dianggap menjauhkan sepak bola Indonesia dari semangat profesionalisme dan inklusivitas.

    Komentar
    Additional JS