Sosial Media
0
News
    Home acara dan festival agama budaya Indonesia tradisi

    Menjelang Ramadan, makam Raja Mataram Kotagede ramai dikunjungi para peziarah

    2 min read

    SETIAP kali bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa tiba, suasana diKotagede,Yogyakarta, berubah menjadi lebih hormat. Jalan-jalan sempit yang dikelilingi tembok bata merah tinggi mulai dipadati oleh peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka datang untuk menjalani tradisi nyadran,ziarahdan doa bersama sebagai persiapan batin menjelang Ramadan.

    "Jika sudah memasuki bulan Ruwah, hampir setiap hari ramai pengunjung," kata Mbah Siswo, salah satu juru kunci Makam Raja-raja Kotagede, Minggu, 25 Januari 2016.

    Menurutnya, lonjakan pengunjung paling terasa menjelang Ramadan. "Banyak yang datang berombongan, dari pagi hingga sore," katanya.

    Pilihan Editor:Dua Sisi Lonjakan Jumlah Wisatawan di Yogyakarta

    Phenomena ini bukan sekadar kunjungan wisata religius. Nyadran telah lama menjadi ritual sosioreligius masyarakat Jawa, yang menjembatani penghormatan kepada leluhur dengan upaya membersihkan batin sebelum memasuki bulan suci.

    Salah satu rombongan peziarah datang dari Pondok Al-Ihsan Jampes, Kediri, Jawa Timur, yang dipimpin oleh seorang kiai. Setelah doa bersama, rombongan meninggalkan area makam secara tertib. "Ziarah ini ikut kiai," kata Mukhlis, salah satu peziarah asal Kediri.

    Mukhlis mengatakan ziarah menjelang Ramadan menjadi sarana introspeksi. "Kami diajak mendoakan para pendahulu, para raja dan tokoh yang berjasa dalam perjuangan dan penyebaran Islam. Kami tidak meminta kepada yang dikubur. Doa kami hanya ditujukan kepada Allah. Di dalam makam kami bertahlil dan beristighatsah," katanya.

    Bagi kelompok peziarah dari Pondok Al-Ihsan Jampes, ziarah menjelang Ramadan dimaknai sebagai upaya memperkuat tauhid. Kegiatan di dalam makam bukanlah untuk memohon kepada orang yang telah meninggal, melainkan mengirimkan doa dan mengingat jasa para leluhur.

    Pilihan Editor:Surga Buku di Desa Wisata Karangrejek

    Saksi Kerajaan Mataram Islam

    Secara historis, Makam Raja-raja Kotagede bukan sekadar kompleks pemakaman. Situs yang dibangun pada abad ke-16 ini tak terpisahkan dari pendirianKerajaan Mataram Islam, sekaligus saksi peralihan kekuasaan dari Pajang ke Mataram.

    Tokoh utama yang dimakamkan di kompleks ini adalah Panembahan Senapati atau Danang Sutawijaya, pendiri sekaligus raja pertama Mataram Islam yang berkuasa pada 1584–1601. Selain itu, terdapat makam Ki Ageng Pemanahan, pelopor pembukaan Alas Mentaok, serta Panembahan Seda ing Krapyak. Sejumlah anggota keluarga inti dinasti Mataram Islam generasi awal juga dimakamkan di kawasan ini.

    Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menjadikan Kotagede sebagai episentrum legitimasi politik dan spiritual dinasti Mataram, sebelum pusat kekuasaan berpindah ke Kerta, Plered, dan kemudian Imogiri pada masa Sultan Agung.

    Memasuki kompleks makam, para peziarah disambut oleh gapura paduraksa yang bercorak Hindu-Jawa. Pintu gerbang yang dibuat rendah memaksa setiap orang untuk menundukkan kepala. Secara filosofis, desain ini melambangkan andhap asor—kerendahan hati di hadapan Tuhan dan para leluhur.

    Aturan Masuk Makam Kotagede

    Keunikan lain dari Makam Kotagede adalah kewajiban untuk mengenakan pakaian adat Jawa lengkap bagi para peziarah yang ingin masuk ke cungkup utama. Pria mengenakan surjan lurik peranakan, jarik, dan blangkon, sedangkan wanita mengenakan kain jarik dan pakaian penutup bahu.

    Aturan ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas spiritual para raja. Pengelola makam menyediakan layanan penyewaan pakaian dengan tarif sekitar Rp50.000, agar tradisi tersebut dapat diikuti oleh semua kalangan. Proses berganti pakaian ini sekaligus menjadi transisi psikologis, melepas identitas duniawi sebelum memasuki ruang spiritual.

    Sejarawan Yudah Prakoso menilai tradisi ziarah ini menjadi pengingat akan sifat sementara kehidupan. "Di hadapan makam para pemimpin besar yang dahulu memegang kekuasaan, para peziarah disadarkan bahwa semua manusia akan kembali ke tanah," kata Yudah.

    Kesadaran akan kematian, menurutnya, menjadi sarana pembersihan batin menjelang Ramadan. "Dengan mengingat akhir hayat, seseorang diharapkan menjalani puasa dengan hati yang lebih tulus, rendah hati, dan jauh dari sifat rakus," katanya.

    Di tengah arus modernisasi, Makam Raja-raja Kotagede tetap berdiri sebagai jangkar sejarah. Pada bulan Ruwah, situs ini bukan hanya menjadi tujuan ziarah, melainkan ruang jeda. "Yaitu tempat manusia berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk menghargai akar sejarah, dan menatap ke dalam diri untuk menyiapkan perjalanan spiritual menuju Ramadan," kata Yudah.

    Pilihan Editor:Bagaimana Warga Afrika Mengubah Kampung Kumuh Menjadi Asri
    Komentar
    Additional JS