Cegah Genangan Air, Koramil 1406-03/Maniangpajo Gelar Karya Bhakti di Anabanua
2 min read
PESANKU.CO.ID, WAJO -- Pagi itu, Selasa (3/2/2026), warga Dusun Lingkungan Alausalo, Kelurahan Anabanua, Kecamatan Maniangpajo, tidak menyangka akan melihat sosok berbaju loreng turun langsung ke got depan rumah mereka. Bukan untuk patroli. Bukan pula untuk operasi. Melainkan untuk menyingsingkan lengan baju, mengeruk lumpur, dan mengangkat sampah yang selama ini menyumbat saluran air.
Serma Sumardi, Babinsa Koramil 1406-03/Maniangpajo, memimpin karya bhakti pembersihan drainase yang tampak sederhana, namun penuh makna. Di tangannya, sekop dan cangkul menjadi senjata baru—bukan untuk berperang, tetapi untuk melawan genangan air dan ketidaknyamanan warga.
Saluran drainase di Dusun Alausalo memang sudah lama "sakit". Sampah plastik menumpuk, lumpur mengeras, rumput liar tumbuh subur. Akibatnya, setiap kali hujan turun, air tidak mengalir dengan baik. Genangan terbentuk di mana-mana. Jalanan becek. Motor melintasinya dengan percikan kotor. Warga hanya bisa pasrah.
"Sudah lama kami ingin bersihkan, tapi susah kalau tidak ramai-ramai," ungkap salah satu warga sambil ikut mengangkat kantong sampah dari dalam got.
Di sinilah peran Babinsa terasa. Bukan hanya sebagai prajurit yang menjaga keamanan, tetapi juga sebagai saudara yang peduli pada keseharian warga. Serma Sumardi paham betul, masalah kecil seperti got mampet bisa jadi pemicu masalah besar: banjir, penyakit, bahkan konflik antar-tetangga.
Karya bhakti ini sebenarnya bukan hanya soal membersihkan drainase. Ini tentang kehadiran. Tentang kepercayaan. Tentang TNI yang tidak hanya muncul saat ada masalah besar, tetapi juga hadir di hal-hal sepele yang justru menentukan kualitas hidup sehari-hari.
Serma Sumardi menyampaikan dengan sederhana: "Ini bagian dari tugas Babinsa dalam pembinaan teritorial. Tapi lebih dari itu, ini wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat."
Kemanunggalan. Kata yang sering terdengar formal, kini terlihat nyata dalam peluh yang mengucur, tangan yang kotor, dan tawa bersama warga di pinggir jalan.
Yang menarik, Serma Sumardi tidak datang sendirian. Ia dibantu warga setempat yang dengan sukarela ikut turun tangan. Ada bapak-bapak berkaos oblong, pemuda dengan rompi oranye, bahkan ibu-ibu yang menyiapkan air minum untuk para pekerja.
Gotong royong—istilah lama yang mulai langka—kembali hidup di pagi itu. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Semua setara di hadapan lumpur dan sampah yang sama-sama harus diangkat.
Dalam beberapa jam, tumpukan sampah di pinggir jalan mulai membesar. Kantong plastik bekas, botol, ranting pohon, hingga sandal jepit yang entah milik siapa. Sementara itu, saluran drainase mulai menampakkan dasarnya yang sudah lama tertutup lumpur.
Warga Kelurahan Anabanua tidak menyembunyikan rasa terima kasih mereka. Beberapa di antaranya bahkan sempat berfoto bersama Serma Sumardi dan anggota yang ikut turun.
"Pak Babinsa ini memang dekat dengan kami. Kalau ada apa-apa, dia selalu hadir. Bukan cuma kalau ada acara besar," ujar salah satu warga sambil tersenyum.
Kepercayaan seperti ini tidak dibangun dalam sehari. Ini hasil dari konsistensi, ketulusan, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat. Babinsa bukan lagi sosok asing yang hanya lewat, tetapi bagian dari komunitas yang hidup dan bernapas bersama warga.
Menjelang siang, pekerjaan hampir rampung. Air mulai mengalir lancar di saluran yang tadinya mampet. Warga bisa melihat perbedaannya dengan jelas.
"Kalau hujan lagi, insyaallah tidak akan tergenang seperti dulu," kata Serma Sumardi sambil membersihkan tangannya.
Harapannya sederhana namun berarti: risiko genangan berkurang, lingkungan lebih sehat, dan warga bisa beraktivitas dengan nyaman. Tidak ada target ambisius, tidak ada jargon bombastis. Hanya keinginan tulus agar kehidupan warga sedikit lebih baik.
Koramil 1406-03/Maniangpajo berkomitmen bahwa ini bukan kegiatan satu kali. Karya bhakti seperti ini akan terus dilakukan sebagai bagian dari tugas pembinaan teritorial dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena di mata Babinsa seperti Serma Sumardi, wilayah binaan bukan sekadar peta di atas kertas. Ini adalah rumah kedua. Tempat di mana ia mengenal warga satu per satu, tahu persoalan mereka, dan ikut merasakan kebahagiaan ketika masalah kecil bisa diselesaikan bersama.
Ketika kegiatan berakhir, yang tersisa bukan hanya drainase yang bersih, tetapi pelajaran berharga: bahwa kepedulian tidak selalu harus dalam bentuk program besar atau anggaran fantastis. Kadang, yang dibutuhkan hanya kehadiran, sekop, dan kemauan untuk turun tangan bersama.
Di Dusun Lingkungan Alausalo, pagi itu, sebuah got yang bersih menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar: hubungan TNI dan rakyat yang tidak retak oleh jarak, tidak pudar oleh waktu.
Dan ketika Serma Sumardi berpamitan, warga melambaikan tangan dengan senyum. Mereka tahu, besok atau lusa, jika ada yang dibutuhkan, Babinsa mereka akan datang lagi.
Bukan karena terpaksa. Tetapi karena memang begitulah seharusnya saudara memperlakukan saudara.(*)