Sosial Media
0
News

    Home NEWS

    Rumah Tangga dan Ancaman Kejahatan Siber: Bahayayang Kini Masuk ke Ruang Keluarga

    32 min read

     



    Oleh: Endang Yuliana Susilawati, S.H, M.H

    Dosen Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta

     

    Dahuluancaman terhadap keluarga identik dengan persoalanekonomiperselingkuhankekerasan dalam rumah tanggaatau penyalahgunaan narkotikaNamun di era digital, munculancaman baru yang sering kali tidak disadariyakni kejahatansiber. Jika dulu pencuri harus masuk melalui pintu ataujendela rumahkini pelaku kejahatan dapat masuk melaluitelepon genggam, media sosialaplikasi pesanbahkanrekening bank yang tersimpan dalam perangkat elektronikanggota keluarga.


    Perkembangan teknologi telah membawa banyak manfaatbagi kehidupan masyarakatAktivitas perbankanbelanjapendidikanpekerjaanhingga komunikasi keluarga kini dapatdilakukan secara onlineNamun di balik kemudahan tersebutterdapat risiko yang semakin besar. Rumah tangga modern tidak hanya menghadapi ancaman fisiktetapi juga ancamandigital yang dapat mengganggu keamananprivasibahkankondisi ekonomi keluarga.


    Belakangan inikasus penipuan digital semakin marak terjadiModusnya beragammulai dari tautan palsu (phishing), pencurian data pribadipembajakan akun media sosialinvestasi bodongpinjaman online ilegalhingga penipuanyang mengatasnamakan anggota keluarga. Tidak sedikitkorban yang kehilangan tabungan puluhan hingga ratusan jutarupiah hanya karena mengklik sebuah tautan yang tampakmeyakinkan.


    Yang menarik, korban kejahatan siber tidak lagi didominasikelompok tertentu. Anak-anakremaja, orang dewasahinggalansia memiliki risiko yang samaBahkan banyak pelakusengaja menyasar kelompok yang dianggap kurangmemahami teknologiDalam konteks inikeluarga menjadisalah satu sasaran empuk karena sering kali memiliki tingkatliterasi digital yang berbeda-beda antar anggotanya.


    Kejahatan siber bukan lagi sekadar persoalan teknologimelainkan persoalan hukum dan keamanan masyarakat. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 1 Tahun2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-UndangInformasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang mengaturberbagai perbuatan melawan hukum di ruang digital, termasukakses ilegalmanipulasi data elektronikpenipuan elektronik, dan penyebaran informasi yang merugikan pihak lain.


    Selain ituUndang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentangPerlindungan Data Pribadi (UU PDP) juga memberikanlandasan hukum yang lebih kuat dalam melindungi data masyarakatRegulasi tersebut menegaskan bahwa data pribadimerupakan hak yang harus dijaga dan tidak boleh digunakansecara sembarangan tanpa persetujuan pemiliknya.


    Sayangnyaregulasi yang baik tidak selalu diikuti dengankesadaran hukum yang memadai. Banyak masyarakat masihmenganggap remeh keamanan digital. Tidak sedikit yang membagikan foto kartu identitas di media sosialmemberikankode OTP kepada orang lain, menggunakan kata sandi yang mudah ditebakatau mengakses jaringan internet tanpamemperhatikan aspek keamanan.


    Dalam lingkup rumah tanggaancaman siber juga semakinkompleks. Anak-anak yang aktif menggunakan media sosialberpotensi menjadi korban cyberbullyingeksploitasi seksualdaring, atau penipuan digital. Sementara itu, orang tua seringmenjadi sasaran penipuan yang memanfaatkan ketidaktahuanteknologiBahkan terdapat kasus di mana pelakumenghubungi orang tua dan mengaku sebagai anak ataukerabat yang sedang mengalami masalah untuk memintatransfer uang secara mendesak.


    Tidak hanya ituperkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligenceturut menghadirkan tantangan baruTeknologideepfake memungkinkan pelaku memalsukan suaragambaratau video seseorang sehingga tampak seolah-olah asli. Ke depanpotensi penyalahgunaan teknologi ini dapat semakinmembahayakan keluargaterutama dalam bentuk penipuanpemerasan, dan penyebaran informasi palsu.


    Dari perspektif kebijakan hukumpendekatan represif melaluipenegakan hukum saja tidak cukupKejahatan siberberkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuanmasyarakat untuk memahami risikonya. Oleh karena itulangkah preventif melalui edukasi dan literasi digital harusmenjadi prioritas utama.


    Keluarga perlu diposisikan sebagai benteng pertama dalammenghadapi ancaman siberSebagaimana orang tuamengajarkan anak untuk berhati-hati terhadap orang asing di dunia nyatamereka juga harus mengajarkan kehati-hatian di dunia digital. Kesadaran untuk tidak membagikan data pribadisembaranganmemverifikasi informasi sebelummempercayainya, dan memahami risiko transaksi digital perluditanamkan sejak dini.


    Pemerintahsekolah, dan perguruan tinggi juga memilikiperan penting dalam meningkatkan literasi digital masyarakat. Pendidikan mengenai keamanan siber tidak boleh hanyadiberikan kepada kalangan profesional teknologitetapi harusmenjadi bagian dari pengetahuan dasar setiap warga negara. Sebab hampir seluruh aktivitas kehidupan saat ini telahterhubung dengan internet.


    Perusahaan penyedia layanan digital harus memperkuat sistemperlindungan penggunaKebocoran data pribadi yang beberapa kali terjadi menunjukkan bahwa keamanan siberbukan hanya tanggung jawab individutetapi juga tanggungjawab korporasi dan negara. Kepercayaan masyarakatterhadap ekonomi digital hanya dapat terjaga apabilaperlindungan terhadap data dan transaksi elektronik dilakukansecara serius.


    Ancaman terhadap rumah tangga pada abad ke-21 tidak selaludatang dari luar pagar rumahAncaman itu bisa hadir melaluipesan singkattautan yang diklik tanpa curigaatau akunmedia sosial yang diretas. Karena itukeamanan keluarga saatini tidak cukup hanya dengan memasang pagarkunci pintuatau kamera pengawasKeluarga juga membutuhkankesadaran hukum dan literasi digital yang memadai.


    Rumah tangga yang aman bukan hanya rumah yang terlindungi secara fisiktetapi juga rumah yang mampumelindungi seluruh anggotanya dari ancaman kejahatan di ruang siberSebab di era digital, menjaga keamanan keluargaberarti menjaga keamanan data, identitas, dan aktivitas digital yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.(*)


    Komentar
    Additional JS