Hujan Buatan Kembali Digelar di Kalsel, 1 Ton Garam Disemai untuk Tekan Karhutla
2 min read
PESANKU.CO.ID, BANJARBARU — Upaya mendatangkan hujan kembali dilakukan di Kalimantan Selatan (Kalsel) di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, dan kabut asap yang masih menghantui sejumlah wilayah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Lanud Sjamsudin Noor kembali mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) setelah kegiatan serupa sempat terhenti lebih dari sebulan.
Operasi kembali dimulai pada Sabtu (5/9/2026) sore. Sebuah pesawat PK-SNK diberangkatkan dari Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, dengan membawa sekitar satu ton garam halus atau Natrium Klorida (NaCl) untuk digunakan sebagai bahan semai awan.
Pesawat tersebut diarahkan menuju wilayah utara Kalimantan Selatan. Tim melakukan penyemaian terhadap awan yang berdasarkan hasil pemantauan dinilai memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan hujan.
OMC menjadi salah satu langkah mitigasi pemerintah untuk menghadapi kondisi kering yang meningkatkan risiko karhutla. Melalui penyemaian bahan tertentu ke awan potensial, tim berupaya mengoptimalkan proses pertumbuhan awan sekaligus mendorong terjadinya hujan.
Tenaga Ahli Pendukung Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn) Herman Hidayat, mengatakan pelaksanaan OMC kali ini direncanakan berlangsung selama tiga hari, mulai 5 hingga 8 September 2026.
Menurut Herman, OMC sebelumnya telah dilakukan pada 15–21 Juli 2026. Namun, kegiatan tersebut kemudian dihentikan karena kondisi awan yang tersedia belum cukup mendukung untuk dilakukan penyemaian.
Setelah dilakukan evaluasi dan koordinasi dengan BMKG pusat, UPT Klimatologi Wilayah, serta unsur terkait di tingkat Provinsi Kalsel, kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan kembali dinilai memungkinkan untuk dilakukan operasi.
“Alhamdulillah pada hari ini, atas evaluasi, penilaian, dan koordinasi antar-rekan-rekan, baik dari BMKG pusat, UPT Klimatologi Wilayah, dan wilayah Provinsi sendiri, itu sudah mengevaluasi kondisi awan yang ada di wilayah Kalimantan Selatan,” ujar Herman di Banjarbaru, Sabtu (5/9/2026).
Ia menjelaskan, penerbangan pada Sabtu sore dilakukan setelah tim memastikan terdapat kondisi cuaca dan awan yang memungkinkan untuk pelaksanaan OMC.
“Dan tadi kita sama-sama melihat sudah berangkat atau memungkinkan untuk bisa dilaksanakan OMC,” katanya.
Flight Scientist Coordinator PT Milan selaku operator OMC di Kalsel, Abdul Arsyad, menjelaskan pesawat pada penerbangan perdana diarahkan ke kawasan utara Kalsel dengan membawa sekitar satu ton garam halus sebagai bahan semai.
Menurut Abdul, keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan potensial. Karena itu, pelaksanaan operasi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan prediksi cuaca dari BMKG.
“Untuk pertumbuhan awan itu berdasarkan prediksi BMKG, itu dominan di siang hari hingga sore hari, namun tidak menutup kemungkinan juga di pagi hari,” jelasnya.
Abdul menegaskan OMC bukanlah upaya untuk menciptakan awan dari langit yang benar-benar cerah. Teknik tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan awan yang sudah terbentuk agar proses pertumbuhan awan dan potensi hujan dapat berlangsung lebih efektif.
Dengan demikian, lokasi dan waktu penyemaian tidak dapat ditentukan secara sembarangan. Tim akan menyesuaikannya dengan perkembangan awan serta kondisi atmosfer berdasarkan data cuaca terkini.
Kembali beroperasinya OMC diharapkan dapat membantu menghadapi kondisi kekeringan yang meningkatkan risiko karhutla di berbagai wilayah Kalsel.
Tambahan curah hujan diharapkan mampu membasahi lahan yang mengering, menjaga kelembapan lingkungan, serta membantu mengurangi potensi kebakaran meluas dan dampak kabut asap.
Meski demikian, efektivitas operasi tetap sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai. Tim OMC bersama unsur meteorologi akan terus melakukan pemantauan sebelum menentukan penerbangan dan lokasi penyemaian berikutnya.
Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Selatan dijadwalkan berlangsung hingga 8 September 2026, dengan pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial di wilayah tersebut.(Wahyudi)